Anis Matta, PKS dan Anti-Intelektualisme

Anis Matta (foto: istimewa)
6 minute read

Sejak tahun 2015 Anis Matta disingkirkan dan dilarang menerima undangan dalam partai. Lalu pembersihan dilakukan. ~Fahri Hamzah


PinterPolitik.com

Baru-baru ini, santer kabar bahwa PKS telah memecat kader mereka karena dianggap tidak taat dan patuh. Yang teranyar adalah kasus pemecatan Ketua Bidang Humas DPD PKS Kota Semarang, Arka Atmaja. Arka mengatakan penyebab dirinya dipecat adalah karena dia mengkritisi beberapa kebijakan partai yang dianggap bertentangan dengan AD/ART PKS.

Jauh sebelum Arka, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah sudah lebih dulu dipecat dari partai Ikhwanul Muslimin Indonesia tersebut. Fahri mengatakan dia telah menerima surat “sakti” terkait pemecatan dari PKS karena tidak mau mematuhi perintah partai untuk mundur dari kursi Wakil Ketua DPR.

Fahri tidak tunduk. Setelah dipecat, mantan aktivis KAMMI tersebut justru semakin bersuara lantang dan tak segan mengumbar keburukan-keburukan di dalam tubuh PKS. Satu diantara kabar yang membuat geger adalah ketika Fahri Hamzah mengatakan bahwa PKS berusaha meminggirkan Anis Matta dan melakukan pembersihan para loyalis dari partai tersebut.

Fenomena pemecatan kader PKS seperti Fahri Hamzah dan Arka Atmaja mengindikasikan adanya ketidaksukaan petinggi PKS terhadap “pembangkangan” dalam internal partai. Sikap politik seperti ini jelas bertentangan dengan spirit demokrasi yang mengedepankan keterbukaan dan hak untuk berpendapat.

Perbedaan pendapat di internal partai itu lumrah terjadi dalam kehidupan berdemokrasi. Lalu mengapa PKS tampak begitu anti terhadap perbedaan seperti itu?

Anis Matta, Intelektual Tersingkirkan?

Anis Matta kerap digolongkan sebagai intelektual muda PKS. Ia pernah menjadi Ketua Umum PKS pada periode 2013 – 2015. Pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan tersebut dibesarkan oleh pendidikan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA).

Hingga detik ini, Anis Matta sudah menerbitkan beberapa buku tentang agama, negara, kepemimpinan hingga urusan percintaan. Buku-buku hasil tulisan tangan Anis itu menjadikan mantan ketua PKS tersebut populer di kalangan anak muda, terutama di lingkaran kelompok-kelompok Tarbiyah.

Selain buku, pemikiran Anis Matta bisa dilacak lewat tulisan-tulisan di website pribadinya. Melalui website itu, Anis aktif mengkampanyekan ide mengenai “Arah Baru Indonesia”. Pemikiran Anis menekankan pentingnya kombinasi antara agama dengan pengetahuan. Pembangunan seperti itu menurut Anis akan berdampak pada kemajuan teknologi, militer hingga ekonomi.

Anis Matta menulis bahwa prasyarat menjadi sebuah bangsa besar adalah dengan cara menjadi bangsa religius dan menguasai ilmu pengetahuan. Terlihat pula bahwa Anis Matta merupakan tokoh Muslim kompromistis. Dalam tulisan, ia mengatakan bahwa harus ada rembuk antara empat komponen: agama, nasionalisme, demokrasi dan kesejahteraan dalam satu kerangka ideologis.

Anis Matta menulis bahwa prasyarat menjadi sebuah bangsa besar adalah dengan cara menjadi bangsa religius dan menguasai ilmu pengetahuan Click To Tweet

Tujuan utama dari rembuk tersebut adalah untuk mengakhiri konflik antara Islam dan nasionalisme, serta antara Islam dan negara. Ia berharap manusia Indonesia ke depannya menjadi bangsa religius, cinta tanah air, menghargai kebebasan, sekaligus sejahtera. Mungkinkah Anis Matta seorang postIslamis

Asef Bayat, seorang sarjana asal Iran dalam artikel berjudul Foreign Affairs memberikan analisis tajam tentang post-Islamisme. Menurutnya, ciri utama gerakan post-Islamisme adalah kecenderungan untuk menjadi realistis dan kompromis dengan realitas politik yang tak sepenuhnya ideal dan sesuai dengan skema ideologis murni yang mereka yakini dan bayangkan.

Berdasarkan pemahaman itu, maka bisa dikatakan Anis Matta adalah seorang post-Islamisme. Hal itu dikarenakan Anis merupakan seorang muslim religius yang menekankan pentingnya kompromistis kelompok Islam dengan nasionalis, hingga mengakhiri pertentangan antara Islam dengan negara demokrasi.

Ide dan gagasan Anis Matta tentang pembaharuan tersebut coba diterapkan pula ketika ia memimpin PKS. Namun, menurut Mahfudz Siddiq rencana Anis Matta untuk memodernisasi  PKS menjadi partai terbuka, transparan dan akuntabel tersebut terhalang oleh kelompok-kelompok “tua” di PKS. Kelak, menurut Mahfudz, perbedaan pandangan itulah yang membuat Anis Matta disingkirkan dalam panggung utama PKS.

PKS Anti-Intelektualisme?

Fahri Hamzah mengatakan ada usaha dari PKS dibawah pimpinan Sohibul Iman dalam mempersempit ruang gerak Anis Matta. Di Twitter, Fahri menyatakan sejak tahun 2015 Anis Matta disingkirkan dan dilarang menerima undangan dalam partai. Lalu pembersihan dilakukan.

Dugaan Fahri Hamzah bisa saja benar. Pasalnya tahun 2015 adalah momen dimana kursi kepemimpinan PKS Anis Matta digantikan oleh Sohibul Iman. Di bawah kepemimpinan Sohibul Iman, PKS tercatat telah melakukan pemecatan terhadap Fahri Hamzah dan sejumlah kader yang dianggap berseberangan. Mungkinkah ini memperkuat dugaan bahwa PKS anti-Intelektualisme?

Menurut Robertus Robet anti-Intelektualisme adalah gejola penolakan atau setidaknya perendahan terhadap segala upaya manusia untuk mengambil sikap replektif, berpegang konsep, ide, atau pemikiran dan perendahan terhadap mereka-mereka yang bekerja di dalamnya. Dalam praktik, anti-Intelektualisme pada dasarnya adalah sikap anti-kritik.

Pembersihan Anis Matta dan loyalis seperti Fahri Hamzah bukan tidak mungkin merupakan bentuk anti-Intelektualisme PKS. Pasalnya, perbedaan pemikiran antara Anis Matta dengan petinggi PKS bukan ditanggapi dengan gagasan, melainkan seperti disebut Fahri bahwa Anis Matta telah disingkirkan.

Sangatlah mengherankan ketika PKS bersikap anti-Intelektualisme, mengingat Ketua Umum PKS Sohibul Iman – yang selama ini dituding oleh Fahri meminggirkan dirinya dan Anis Matta – adalah  seorang intelektual.

Sohibul Iman sendiri sempat disebut-sebut oleh Jaringan Islam Liberal (JIL) akan membawa pembaharuan bagi PKS. Pentolan JIL Ulil Abshar Abdhala sempat memberikan selamat kepada Sohibul Iman ketika terpilih menjadi Presiden PKS. Ia pun berharap PKS akan menjadi partai terbuka.

Latar belakang Sohibul Iman sebagai mantan Rektor Universitas Paramadina juga sempat dikaitkan oleh media JIL. Selain itu, dia juga merupakan lulusan Universitas di Jepang, bukan Timur Tengah seperti Anis Matta. Jika kabar peminggiran Anis Matta oleh Sohibul Iman itu benar. Lantas apa motif dasar dari sikap politik tersebut?

Matahari Kembar di PKS

Menurut Mahfudz Siddiq, kemunculan dua kubu di PKS bermula ketika ada kerenggangan hubungan antara Anis Matta dan Hilmi Aminuddin. Ketika itu beberapa kader PKS menguasai kursi Kementerian di era SBY. Mahfudz mengatakan Ketua Majelis Syuro PKS saat itu, Hilmi Aminuddin memiliki kebijakan semua menteri-menteri PKS langsung di bawah kontrol Majelis Syuro.

Hal itu berubah ketika Anis Matta menjadi Presiden PKS. Anis Matta ingin menjadikan PKS sebagai partai politik terbuka dengan pengelolaan organisasi dan sumber daya yang transparan dan akuntabel. Hal ini kemudian menjadikan Anis dan Hilmi berjarak.

Sekalipun Anis dan Hilmi dianggap telah berjarak sejak lama, Anis Matta justru bukan diturunkan oleh Hilmi Aminuddin, melainkan oleh Majelis Syuro di bawah pimpinan Salim Segaf. Lantas kenapa hal tersebut bisa terjadi? Mungkinkah hal itu merupakan upaya dari petinggi PKS untuk mematahkan dominasi Anis Matta dengan menghadirkan figur intelektual baru di PKS?

Fahri Hamzah sendiri pernah mengatakan bahwa Anis Matta dan Sohibul Iman ibarat “Matahari Kembar” di dalam PKS. Seperti disinggung sebelumnya, Sohibul Iman sama dengan Anis Matta. Ia juga seorang intelektual.

Ubedilah Badrun menyatakan ada tiga pemikiran inti dari Sohibul Iman, pertama adalah purifikasi Islam dalam partai politik, pluralis berakarakter, dan partai Islam modern. https://republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/15/09/07/nu9qf8336-sohibul-iman-pks-dan-jil-2habis

Bahkan Ulil Abshar pernah mengatakan bahwa Sohibul Iman adalah benih-benih liberal dalam PKS. Benarkah?

Jika merujuk pada sikap politik PKS saat ini, sepertinya sulit untuk membuktikan ucapan pentolan JIL bahwa Sohibul Iman adalah seorang pembaharu. Pasalnya, tokoh-tokoh yang dianggap pembawa pembaharuan di PKS seperti Fahri Hamzah dan Anis Matta justru tidak digandeng oleh Sohibul Iman.

Sohibul justru sejauh ini tampak seperti menegaskan kelompok tua yang anti akan pembaharuan. Unsur sami’na wa atho’na atau kami dengar kami taat justru digunakan untuk menyingkirkan kelompok pembaharu yang dianggap bertentangan dengan kebijakannya.

Bisa saja dugaan bahwa PKS telah bersikap anti-intelektualisme  ada benarnya. Jika merujuk pada pendapat sejarawan Amerika Richard Hofstadter, kaum anti-intelektualis terkemuka biasanya adalah orang-orang yang sangat mendalam keterlibatannya dengan gagasan-gagasan.  Mungkinkah Sohibul Iman termasuk di dalamnya? (D38)