Anies Membelokkan Sejarah?

Foto: the-mni.com
10 minute read

Beredarnya video tersebut sontak menjadi perbincangan di dunia maya. Banyak pihak menyayangkan pernyataan Anies yang dianggap ‘membelokkan’ sejarah tersebut.


PinterPolitik.com

To know nothing about what happened before you were born is to forever remain a child.

Kata-kata yang ditulis Marcus Tullius Cicero – filsuf, politisi dan pengacara Romawi yang lebih dikenal dengan nama Cicero (106-43 SM) – ini menggambarkan betapa pentingnya sejarah bagi masyarakat. Orang-orang yang tidak mengetahui sejarah akan selamanya menjadi ‘anak kecil’. Persoalan sejarah itu tampaknya saat ini sedang menjadi perbincangan hangat di Indonesia.

Beredarnya video yang berisi ceramah Anies Baswedan di markas Front Pembela Islam (FPI) Petamburan pada 1 Januari 2017 lalu, agaknya menjadi cerita menarik lain di tengah suasana politik Jakarta yang mulai mendingin. Video tersebut berisi kampanye dan penjabaran Anies tentang sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia yang menurutnya berawal dari deklarasi Partai Arab Indonesia (PAI). Berikut versi lengkap isi video yang menjadi perbincangan di media sosial. Adapun bagian yang membahas tentang sejarah pergerakan Indonesia ada pada menit 13.40-15.40.

Dalam video tersebut Anies mengatakan bahwa sejarah pergerakan nasional Indonesia dimulai dari pendirian Partai Arab Indonesia (PAI) pada tahun 1934. Kakek Anies – Abdurrahman Baswedan atau yang lebih dikenal dengan nama AR Baswedan (1908-1986) – merupakan sosok utama yang menggagas pendirian partai tersebut.

Beredarnya video tersebut sontak menjadi perbincangan di dunia maya. Banyak pihak menyayangkan pernyataan Anies yang dianggap ‘membelokkan’ sejarah tersebut.

 

Sejarah versi Anies Baswedan: Facts Check

Anies mengatakan bahwa PAI adalah kelompok yang paling pertama mendeklarasikan ke-Indonesia-an. Menurut Anies, sebelum deklarasi PAI, ke-Indonesia-an itu belum ada dan belum ada yang menyatakan sumpah pada ke-Indonesia-an. Berikut ini beberapa poin yang menjadi ucapan Anies saat itu.

  • Menurut Anies, sebelum tahun 1934, belum ada Indonesia!

Faktanya, tentu saja Indonesia sudah ada. Dari sisi nomenklatur, penamaan wilayah jajahan Belanda ini sebagai ‘Indonesia’ sudah ada sejak tahun 1850. Ketika itu, George Windsor Earl (1813-1865) – seorang navigator dari Inggris – dan James Richardson Logan (1819-1869) – seorang pengacara dan penulis dari Skotlandia – menggunakan nama ‘Indonesia’ dalam Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAE). Adolf Bastian (1826-1905) – seorang polymath atau ‘jenius yang serba bisa’ dari Jerman – kemudian mempopulerkan nama tersebut lewat bukunya yang diterbitkan pada tahun 1884 dan membuat nama Indonesia semakin luas digunakan. Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara (1889-1959) adalah orang pribumi paling pertama yang menggunakan nama itu ketika mendirikan kantor berita di Belanda dengan nama Indonesisch Pers Bureau pada tahun 1913.

Dari sisi semangat ‘ke-Indonesiaan’, perjuangan pergerakan Indonesia sudah muncul ketika Budi Utomo didirikan pada tahun 1908. Setelah mendirikan Budi Utomo, Dr. Sutomo (1888-1938) juga membentuk Indonesische Studie Club atau Kelompok Studi Indonesia pada tahun 1924. Di tahun ini juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Hal yang tentu saja paling mencolok adalah kelahiran Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang menandai kesadaran sebagai sebuah bangsa.

Dengan demikian, apa yang dikatakan Anies Baswedan tentu saja bertentangan dengan fakta sejarah yang sesungguhnya. Bahkan, kalau mau dilihat dari sisi perjuangan kelompok etnis untuk kemerdekaan, sebelum pendirian PAI pada tahun 1934, telah ada Partai Tionghoa Indonesia (PTI) – didirikan pada  25 September 1932 – yang menjadi wadah bagi etnis Tionghoa untuk ikut dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jelas bahwa Indonesia itu sudah ada sebelum PAI.

  • Menurut Anies, kesadaran yang ada sebelum PAI didirikan masih bersifat kedaerahan. Setelah PAI didirikan, kesadaran tentang Indonesia baru muncul.

Anies Membelokkan Sejarah

Faktanya, saat itu sudah banyak gerakan perjuangan lain yang mengatasnamakan tanah air Indonesia. Bahkan tonggak sejarah perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia semakin jelas setelah adanya Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Sejak saat itu, semua perjuangan diarahkan bagi kemerdekaan ‘Indonesia’: sebuah identitas tanah air yang satu, identitas bahasa yang satu, dan identitas kebangsaan yang satu.

Sementara Sumpah Pemuda Arab baru terjadi pada tahun 1934. Dengan demikian, pernyataan Anies Baswedan yang menyebutkan bahwa sebelum pendirian PAI tidak ada identitas ke-Indonesia-an tentu saja tidak benar. Walaupun Sumpah Pemuda dilahirkan oleh pemuda-pemuda yang mewakili organisasi-organisasi kedaerahan, penyataan ‘berbangsa satu, bertanah air satu, dan berbahasa satu’ sesungguhnya telah mewakili identitas Indonesia tersebut.

Mengapa Anies Membelokkan Sejarah?

Semua perkataan Anies tersebut ternyata bertentangan dengan sejarah perjuangan bangsa ini yang bahkan sudah diajarkan kepada anak-anak sejak bangku SD. Pertanyaannya adalah mengapa Anies Baswedan – seorang akademisi dan intelektual yang pernah menjadi Menteri Pendidikan – mengeluarkan pernyataan seperti itu?

Tentu mau tidak mau, semuanya akan dikaitkan dengan posisi Anies sebagai calon gubernur (cagub) pada pilkada DKI Jakarta. Apalagi, pada saat itu – 1 Januari 2017 – pilkada putaran pertama belum berlangsung dan selain Ahok, Anies harus pula menghadapi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam perebutan suara para pemilih dari FPI. AHY punya latar belakang yang sama dengan Anies dalam hal agama. Oleh karena itu, mau tidak mau, Anies harus punya cara untuk menarik hati dan dukungan para pemilih FPI yang notabene sangat keras dalam hal agama.

Tentu saja Anies berharap dengan mengatakan bahwa kakeknya yang adalah keturunan Arab dan berperan besar bagi ke-Indonesia-an – lebih dari pemuda-pemuda yang berasal dari daerah lain – pemilih FPI akan menjatuhkan hati pada dirinya. Hasilnya, Anies cukup berhasil menarik hati para pemilih tersebut dan terbukti mampu mengalahkan AHY pada putaran pertama.

Namun, patut disayangkan karena untuk tujuan politik tersebut, Anies sampai harus membelokkan sejarah perjuangan bangsa ini. Niccolo Machiavelli mungkin akan menyebut Anies sebagai good politician atau politisi yang baik dalam hal strategi memenangkan dukungan politik yang dilakukannya. Tetapi, apakah hal tersebut harus dengan mengorbankan pemahaman akan sejarah bangsa?

Saat ini, semua mata rakyat Indonesia tertuju ke ibukota, apalagi menjelang putaran kedua pilkada Jakarta. Tentu saja ceramah Anies di markas FPI dalam video tersebut akan menjadi salah satu bahan serangan dari lawan politiknya. Menarik untuk menunggu strategi apa lagi yang akan digunakan Anies untuk memenangkan dukungan politik di putaran kedua.

Terlepas dari ucapan kontroversialnya tersebut, Anies Baswedan juga mengenalkan kita pada seorang tokoh yang punya andil besar pada zaman perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tokoh yang juga adalah kakek Anies tersebut bernama Abdurrahman Baswedan atau AR Baswedan. Siapakah tokoh yang punya jasa besar bagi kedaulatan negara ini? Mari kita telusuri perjuangannya.

AR Baswedan: Penulis yang Tak Punya Rumah

AR Baswedan adalah salah satu jurnalis, diplomat, dan pejuang kemerdekaan keturunan Arab yang berjasa besar bagi bangsa dan negara ini. Sebagai keturunan Arab, AR Baswedan mengalami diskriminasi sosial yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Saat itu terdapat kelas-kelas dalam masyarakat Indonesia, di mana kelompok pertama dalam masyarakat adalah orang-orang Eropa, kelompok kedua adalah etnis Tionghoa, Arab dan India, sedangkan kelas ketiga adalah golongan pribumi. Walaupun hidup dalam pemisahan struktur sosial, AR Baswedan keluar dari batasan-batasan tersebut dan bergaul dengan siapa saja, baik pribumi maupun orang-orang keturunan dari etnis lain, misalnya dengan orang-orang Tionghoa. Nasionalisme AR Baswedan tidak perlu diragukan.

AR Baswedan (Foto: Wikipedia)

Ia lahir di tengah-tengah masyarakat yang diisolasi oleh pemerintah kolonial, namun pergaulan yang ia rintis jauh melampaui batas-batas etnisnya. Hal itu pula yang ia lakukan ketika mulai menapaki jejak-jejak karirnya dalam dunia jurnalistik. Ia bergaul erat dengan kawan-kawan dari golongan Tionghoa, terutama dengan sesama aktifis. AR Baswedan berkawan baik dengan Liem Koen Hian (1897-1952) – pendiri Partai Tionghoa Indonesia (PTI) yang juga redaktur Sin Tit Po – sebuah surat kabar yang diterbitkan di Surabaya. Persahabatan AR Baswedan dengan sesama aktifis, baik dari keturunan Arab, pribumi, maupun Tionghoa, sering kali digunakan untuk melawan pemerintah kolonial Belanda dan melawan masyarakat Eropa.

Pada 1 Agustus 1934, AR Baswedan memuat tulisannya tentang pentingnya keterlibatan orang-orang keturunan Arab dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia di harian Matahari – surat kabar yang didirikan oleh Kwee Hing Tjiat dan diterbitkan di Semarang. Di surat kabar ini pula AR Baswedan menjadi staf redaktur.

AR Baswedan memang keturunan Arab, tetapi lidahnya fasih dan kental dengan bahasa Jawa. Dalam artikel yang dimuat di koran Matahari tersebut misalnya, terpampang foto AR Baswedan mengenakan blangkon. Ia menyerukan pada orang-orang keturunan Arab agar bersatu membantu perjuangan Indonesia. Untuk beberapa lama, orang-orang keturunan Arab di Indonesia memang hidup terisolir dalam kampung-kampung Arab. Ia mengajak keturunan Arab untuk ‘keluar’ dari batas-batas yang ada dan menganut asas kewarganegaraan ius soli: di mana saya lahir, di situlah tanah airku. Tulisan tersebut sempat membuat heboh, khususnya di kalangan orang-orang keturunan Arab.

Pada tanggal 4 Oktober 1934, AR Baswedan mengumpulkan para peranakan Arab di Semarang. Dalam kongres para pemuda peranakan Arab itu, dikumandangkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab yang menyatakan Indonesia sebagai tanah air dan akan berjuang untuk mendukung tercapainya kemerdekaan Indonesia. Lalu berdirilah Partai Arab Indonesia (PAI), dan AR Baswedan dipilih sebagai ketua. Sejak saat itu, PAI ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Pertemuan PAI di Bandung tahun 1939 (Foto: Wikipedia)

Pasca proklamasi kemerdekaan, AR Baswedan tercatat pernah menjadi delegasi Indonesia untuk melobi negara-negara anggota Liga Arab. Bersama dengan Haji Agus Salim (Menteri Muda Luar Negeri), Rasyidi (Sekjen Kementerian Agama), Muhammad Natsir, dan St. Pamuncak, AR Baswedan yang saat itu menjabat Menteri Muda Penerangan menjadi delegasi diplomatik pertama yang dibentuk oleh Indonesia yang baru merdeka. Mereka melobi para pemimpin negara-negara Arab. Perjuangan ini berhasil meraih pengakuan pertama atas eksistensi Republik Indonesia secara de facto dan de jure oleh Mesir.

AR Baswedan akan dikenang dalam segala perjuangannya membantu negara ini merdeka. Namun, dalam segala kebesarannya tersebut, ia adalah orang yang sangat sederhana. Faktanya, hingga akhir hayat, ia tidak memiliki rumah sendiri. AR Baswedan sangat sederhana dan tidak pernah memikirkan harta material. Ia dan keluarga menempati rumah pinjaman di dalam kompleks Taman Yuwono di Yogyakarta, sebuah kompleks perumahan yang dipinjamkan oleh Haji Bilal untuk para pejuang revolusi saat Ibukota Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta.

Momentum viralnya video Anies Baswedan di markas FPI setidaknya membantu kita untuk kembali menggali sejarah salah satu tokoh yang sudah sejak zaman perjuangan kemerdekaan berjuang untuk toleransi di negara ini. Kata-kata Anies di markas FPI membuat kita membolak-balikan lagi buku sejarah, mencari tahu kebenarannya, dan bahkan akhirnya berkenalan dengan salah satu tokoh penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia bernama AR Baswedan. AR Baswedan adalah tokoh yang berani keluar dari batas-batas yang ada di sekitarnya. Ia menjadi contoh orang Indonesia sejati: bergaul dan berteman dengan siapa saja tanpa memandang batas-batas suku, agama dan ras – hal yang saat ini sepertinya sudah mulai luntur kembali dari kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Momentum Pilkada DKI

Pembelokkan sejarah yang dilakukan oleh Anies telah ‘melukai’ perjuangan kakeknya sendiri, mengingat FPI sering diidentikkan dengan organisasi yang intoleran – yang tentu saja berlawanan dengan perjuangan AR Baswedan. Oleh karena itu, menarik untuk ditunggu apa dampak ucapan Anies tersebut terhadap hasil putaran kedua Pilkada DKI nanti.

Terkait dengan hal terebut, Michael Walzer – seorang ahli politik dan intelektual publik Amerika Serikat – pernah menulis:

No one succeeds in politics without getting their hands dirty.”

Tidak ada kesuksesan di dalam dunia politik tanpa ‘bertangan kotor’. Mungkin terlalu sarkastis untuk menilai Anies Baswedan dengan ungkapan tersebut. Namun, hal yang dikatakan oleh Anies tentang sejarah pergerakan nasional Indonesia ini patut dikritisi. Anies seolah mengesampingkan fakta Sumpah Pemuda 1928, fakta gerakan-gerakan ke-Indonesia-an yang sudah ada sejak lama seperti Budi Utomo, atau perjuangan pelajar-pelajar Indonesia di Belanda.

Pada akhirnya semua orang bebas berbicara dan mengungkapkan apa yang ia percayai – itulah inti dari sebuah masyarakat yang demokratis. Setidaknya, dengan menjadi viral-nya video tentang Anies ini, kita menjadi semakin sadar untuk belajar sejarah dan menggali tokoh-tokoh Indonesia dengan segala perjuangannya seperti AR Baswedan.

Jika AR Baswedan dulu berteman dengan banyak aktifis dan pemuda Tionghoa, saat ini Anies Baswedan justru sebaliknya akan menghadapi Ahok – seorang yang beretnis Tionghoa – dalam pertarungan perebutan kursi DKI 1. Jika dahulu AR Baswedan berjuang untuk merebut kemerdekaan Indonesia, harapannya kali ini siapa pun pemenang kontestasi politik di ibukota akan membawa ‘kemerdekaan’ bagi masyarakat ibukota dari kemiskinan dan segala persoalan klasik ibukota. Anies Baswedan mungkin perlu dikritisi terkait ucapannya tentang perjuangan pergerakan Indonesia, namun jangan lupakan pula bahwa ia adalah salah satu cucu orang yang pernah berkontribusi besar untuk republik ini: AR Baswedan. (S13)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here