Anies Baswedan Gagal Lagi?

masalah pasar tanah abang
Anies Baswedan. (Foto: Porostimur.com)
3 minute read

“Jakarta itu cinta yang tak hapus oleh hujan, tak lekang oleh panas. Jakarta itu kasih sayang.” ~Sapardi Djoko Damono


PinterPolitik.com

Masalah pembenahan Pasar Tanah Abang kayaknya nggak pernah bisa kelar dengan mudah ya. Ada solusi satu, muncul masalah berikutnya. Ada aturan baru, yang bagus, dan solutif, ehh, ditolak mentah-mentah. Kan gemesin banget ya…

Kalian pernah ke pasar Tanah Abang kan? Tahu kan betapa berantakan dan semrawutnya pasar tersebut? Tahu juga kan sebandel dan sebaperan apa pedagang-pedagangnya? Waduhhh, kapan ya segala drama-drama tersebut akan berakhir?

Nah, terkait soal masalah Tanah Abang, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan baru aja mendapat kritik pedas dari Ketua Forum Warga Kota Jakarta Azas Tigor Nainggolan. Anies diminta untuk meniru slogan Pegadaian untuk menjalankan tugasnya, yakni ‘menyelesaikan masalah tanpa masalah’. Waduhh bisa ae

Jadi gaes, Pak Tigor ini menilai kalau selama ini cara Anies menyelesaikan masalah itu nggak solutif 100 persen. Malah nambah-nambahin masalah baru.

Kalau Anies denger ini, bisa jadi doi ngmbatin, ‘Haduh, Son, Son, gagal maning, gagal maning… Kepriwe sih…’ Wkwkwkwk.

Tapi kegagalan itu kan, kesuksesan yang tertunda. Hiya, hiya, hiya Click To Tweet

Menurut Tigor, tata kelola Tanah Abang pada masa kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) itu sudah bagus, yakni Pedagang Kaki Lima (PKL) dilarang berjualan di pinggir jalan Tanah Abang. Ehh, sekarang malah berserakan lagi.

Ish, ish, ish, Pak Tigor kayak nggak tahu aja. Itu kenapa seorang Anies Baswedan bisa sangat dicintai oleh pedagang Tanah Abang. Karena keramahan pada PKLnya ini. Hiya, hiya, hiya…

Soal pembangunan Jalur Penyeberangan Multiguna (JPM) atau skybridge di Tanah Abang misalnya. Tigor mempertanyakan, buat apa bangun itu?

Baca juga :
Mungkinkah Terbit Junta Militer?

Ini juga aku lagi nanya-nanya. Ngapain sih bikin JPM? Jalannya jadi jauuuuuhhh banget. Lelah aku tuhNggak kebayang deh kalau yang punya keterbatasan fisik gimana. Belum lagi buat lansia. Kayaknya kurang ramah deh. Udah gitu Ombudsman menerima laporan kalau tempat itu tempat mangkalnya para copet-copet nakal. Uhh makin ngeri kan?

Kalau menurut Tigor, memindahkan para PKL ke skybridge itu juga bukan solusi tepat. Bisa saja dagangan para PKL malah nggak laku. Beberapa pedagang juga ada yang mengeluh, kalau selama pindah ke JPM pembelinya cuma dari pengguna KRL aja. Kalau jualan di pinggir jalan pembelinya kan bisa dari orang yang melintas.

Hmmm, rencananya sih nanti semua pejalan kaki akan dipaksa nyebrang menggunakan JPM. Nanti jalannya bakal dipagerin setinggi satu meter, biar nggak bisa nyebrang lewat trotoar lagi. Jadi mau nggak mau pejalan kaki yang bukan dari stasiun tetap harus nyebrang lewat JPM. Wahhh, ngebayanginnya aja udah bikin lelah ini. Wkwkwkwk.

Menurut Tigor, sebenarnya bukan skybridge yang dibutuhkan untuk mengelola pedagang kaki lima. Pemrov lebih baik fokus pada aturan yang telah dibuat. Tegas gitu. Terus sediakan juga tempat yang membuat PKL nggak turun ke jalan. Biar nggak nambah masalah.

Ehhh, idenya boleh juga. Tapi kayaknya kurang solutif deh, untuk kepentingan Anies. Nanti kalau tegas-tegas amat, kalau mau maju Pilkada lagi, pemilihnya bisa berkurang dong? Edededeh… bercanda… (E36)

Facebook Comments