Andai Tutut Cawapres Prabowo

Prabowo Subianto dan Siti Hardiyanti Rukmana (Foto: Istimewa)
6 minute read

Bila kabar bahwa kantong Prabowo Subianto tengah kering benar adanya, maka dia membutuhkan seseorang dengan akses keuangan yang tidak ada batasnya.


PinterPolitik.com

“Bedanya Mbak Tutut dan Mbak Mega adalah Mbak Tutut seorang politikus, tapi bukan pemimpin, sedangkan Mbak Mega adalah seorang pemimpin, tapi bukan politikus”

-Gus Dur, 1997-

Menjelang Pemilu 2019, bongkar pasang skenario cawapres untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto bakal menarik untuk terus disimak. Karena kedua tokoh punya kekurangan masing-masing, maka asumsinya sang calon wakilnya harus mampu menutupi kekurangan mereka.

Beberapa nama untuk Prabowo muncul dari internal Gerindra. Terbaru, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan kalau Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) cocok untuk dipasangkan dengan Prabowo, melengkapi pasangan militer-Islam yang diusung Gerindra.

Simulasi nama-nama lain juga muncul dari berbagai pengamat dan hasil survei. Misalnya, ada yang menyebut kalau Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan cocok untuk melengkapi kekurangan Prabowo, atau yang lain bahkan menyebut Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang paling cocok untuk Prabowo. (Baca juga: Prabowo-Ahok, Jokowi Keok?)

Tapi, di luar nama-nama itu, pinterpolitik.com mendapatkan informasi tentang satu nama lain. Nama tersebut adalah Siti Hardiyanti Rukmana, atau biasa dikenal dengan Mbak Tutut, anak sulung mantan Presiden Soeharto, sekaligus kakak dari istri-pisah Prabowo, Siti Hedianti Hariyadi atau Titiek Soeharto.

Menurut sumber tersebut, Prabowo tengah menjalankan komunikasi yang cukup intensif dengan Tutut belakangan ini, yang juga berkaitan dengan kesepakatan bantuan dana mencapai triliunan rupiah dari Tutut. Sejumlah angka—yang bila benar adanya—bakal menjadi bahan bakar maha penting untuk pemenangan Prabowo di 2019.

Bagaimana prospek pembentukan dan pemenangan pasangan ini? Bukankah Tutut pernah marah besar kepada Prabowo, dalam sejarah 20 tahun lalu?

Tutut, Kepercayaan Cendana?

Mbak Tutut (Foto: Istimewa)

Untuk memahami bakal pasangan calon ini, menarik untuk mengenal Mbak Tutut terlebih dahulu. Pasalnya, Tutut memang sosok yang tidak banyak menghiasi pemberitaan, karena aktivitas politik yang dilakukannya jauh dari sorotan media.

Baca juga :
KTT G-20, Kode Jokowi Untuk Trump

Sepanjang sejarahnya, “karir politik” Tutut memang lebih banyak terjadi di belakang layar. Ada dugaan bahwa sejak detik-detik akhir era Soeharto, Tutut sebagai anak sulung sudah menjadi kepercayaan Soeharto untuk mewakilinya di dalam kebinet.

Tutut sudah ditempatkan oleh Soeharto di jabatan publik sejak tahun 1993, yakni menjabat sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI). Selesai menjabat pada Januari 1998, Tutut langsung ditempatkan menjadi Menteri Sosial di Kabinet Pembangunan Lima Tahun (Pelita) VII pada Mei 1998.

Penempatan anaknya di jabatan ini, menurut Gema Warta Radio Nederland, menggambarkan bahwa Soeharto telah menyadari ancaman yang mungkin datang kepadanya. Tutut pun, disebut-sebut adalah anak yang paling menyadari ancaman ini dan mengingatkan bapaknya untuk “sedikit mundur” karena “sudah tiga dasawarsa menjabat”. Tutut pun kabarnya mendapatkan mandat untuk menunjuk orang-orang kepercayaannya di kabinet terakhir ayahnya itu.

Pada masa-masa kritis tersebut, Tutut pun terlihat cukup sering keluar dan tampil bersama dengan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI R. Hartono. Hubungan yang cukup mesra di depan layar ini, bahkan kabarnya juga jauh lebih mesra di belakang layar. Hubungan Tutut-Hartono kala itu bahkan disebut-sebut berada dalam desain CIA untuk mempertahankan rezim Soeharto.

Pambudi dalam bukunya Kalau Prabowo jadi Presiden berpendapat, bahwa usaha Tutut muncul di depan publik saat itu, adalah usaha terakhir Cendana untuk menunjukkan kekuatan politik mereka tetap eksis. Bahwa Angkatan Bersenjata RI (ABRI) adalah bagian Golkar dan Cendana akan terus hidup.

Keresahan Tutut dan adik-adiknya pun akhirnya menjadi kenyataan. Soeharto, Sang Bapak Pembangunan benar-benar tumbang pasca krisis ekonomi 1998. Setelah kejatuhan Soeharto itu, Pambudi menyebut bahwa ambisi politik Tutut terus meningkat.

Huru-hara Mei 1998 (foto: BBC Indonesia)

Pasca Soeharto turun, Tutut juga dipercaya oleh banyak pihak akan mampu menggantikan Soeharto. Dukungan yang didapatkan Tutut bahkan juga datang dari kalangan Nadhlatul Ulama (NU).

Kedekatan ini sebenarnya sudah terlihat sejak tahun 1997. Namun, intensitasnya makin terlihat pasca-reformasi. Dalam banyak kesempatan, Gus Dur membawa Tutut bersamanya mengunjungi pondok-pondok pesantren.

Baca juga :
Airlangga Menunggu Taji Bamsoet

Bahkan, menurut Pambudi, Gus Dur pernah menyatakan dukungan agar Tutut menjadi presiden untuk mengembalikan kebesaran nama ayahnya. Suatu pernyataan yang kontroversial—bisa jadi banyolan khas Gus Dur—yang nyatanya membuat Tutut menelurkan ambisi politiknya dengan membentuk Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB)

Akan tetapi, Tutut mengalami kegagalan besar dengan partai besutannya ini. PKPB tidak pernah lolos di dua kali Pemilu, yakni pada tahun 2004 dan 2009. Pengamat politik umumnya menilai bahwa hal ini disebabkan sentimen negatif kepada Orde Baru yang masih tinggi.

Tapi, sepertinya ada faktor lain. Tutut memang tidak cocok berkarir politik di depan layar. Ibarat melawan fitrah yang dibangun oleh bapaknya sejak awal karirnya.

Prabowo-Tutut, Cendana Come Back?

Saat ini, Tutut memang tidak menduduki jabatan politik strategis di manapun, baik di kursi publik maupun kursi di partai politik. Selain itu, hanya ada keterkaitan kecil antara Tutut dengan partai baru peserta Pemilu 2019, Partai Garuda. (Baca juga: Cendana Bangkit Bersama Garuda?)

Secara popularitas pun Tutut cenderung rendah, demikian halnya dengan tingkat elektabilitasnya. Karenanya, kekuatan utama Tutut bukanlah kapital politiknya, namun kapital bisnisnya.

Di samping dipercaya secara politik, Tutut juga sangat dipercaya untuk mendapatkan porsi bisnis yang besar. Data yang dilansir majalah TIME tahun 1999 menyebut bahwa Tutut setidaknya punya harta mencapai US$ 700 juta saat itu.

Harta ini berbentuk mulai dari saham, aset-aset properti di banyak negara, sampai yayasan-yayasan milik keluarga Cendana. Tutut pernah menjadi pimpinan di Citra Lamtoro Gung Group, PT Sinar Slipi Sejahtera, PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia, PT Televisi Republik Indonesia (TVRI), dan perusahaan-perusaan nasional lain, serta perusahaan alutsista multi nasional Alvis Scorpion.

Tutut juga memiliki banyak properti di negara-negara Asia, bahkan sampai di Boston, Amerika Serikat (AS), tempat di mana keluarganya tinggal saat ini. Tutut juga setidaknya memiliki Yayasan Tiara Indonesia, Yayasan Dharma Setia, dan Yayasan Tri Guna Bhakti, yang oleh banyak pihak disebut-sebut sebagai bagian dari “celengan” Soeharto. Saking dimanjakannya, bahkan muncul candaan nama Tutut sebagai Tanpa Usaha Tapi Untung Terus.

Potensi kekuatan finansial Tutut begitu besar untuk Prabowo. Semua angka yang disebut di atas adalah data-data yang sudah bisa diakses publik dan pasti jauh lebih banyak lagi yang tidak diketahui publik.

Baca juga :
"Pelarian" Anies ke Kolombia

Belum lagi, belakangan ini masih terdengar isu mengenai uang Yayasan Supersemar yang masih disembunyikan, sebesar lebih dari 4 triliun rupiah. Kekayaan Tutut sepertinya akan cukup untuk menambal bocornya keuangan Prabowo menjelang 2019.

Supersemar Jadi Semarmendem

Pertanyaannya, apakah Tutut telah bermaaf-maafan dengan Prabowo pasca kejadian di tahun 1998, kala Prabowo dianggap lalai menjadi crisis manager yang baik?

Roman-romannya sudah. Pasalnya, kedekatan Prabowo dengan keluarga Cendana kembali nampak di permukaan sejak Pemilu 2014. Prabowo hadir di acara ulang tahun istrinya, Titiek waktu itu. Berkat kejadian tersebut, Prabowo dikabarkan tengah melakukan pendekatan kembali ke Cendana melalui Titiek.

Bila benar demikian, bukan tidak mungkin reuni Cendana akan terjadi kembali. Dan kekuatan orang-orang lama bekas Orde Baru akan kembali menyatu. Bahkan, Golkar yang nampaknya sudah reformatif, bisa kembali mendukung Prabowo berkat kembalinya keluarga Cendana, jika melihat kekuatan Titiek di internal partai.

Lebih dari sekadar kekuatan partai, kedekatan dengan Cendana ini sudah pasti akan mendekatkan massa Islam yang sempat merenggang, kembali ke pelukan Prabowo. Ada kedekatan yang terlihat dengan pengawalan masif umat Islam saat haul Soeharto, pada Mei 2017.

Dan bukan tidak mungkin, poros Prabowo ini benar-benar merealisasikan kembalinya kekuatan Cendana pada 20 tahun peringatan Reformasi. Mungkinkah terjadi? (R17)

Facebook Comments