Amien Rais si ‘Bapak Nyinyir’

Amien Rais si ‘Bapak Nyinyir’
Istimewa
2 minute read

“Dia sebenarnya bisa jadi presiden saat itu, tapi tidak memilih itu. Kalau hari ini pak Amien kritis berarti dia tak berubah. Karena peran pak Amien ini luar biasa, membangunkan sikap kritis hal-hal yang menyimpang,” ~ Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah.


PinterPolitik.com

Nama Amien Rais memang kian santer diperbincangkan belakangan ini. Kritikan pedasnya terhadap pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mulai ramai mewarnai media pemberitaan. Tapi sepertinya banyak pihak yang tidak menyukai gaya kritikan ceplas-ceplos yang dilakukan pria yang didapuk sebagai Bapak Reformasi ini. Lagian kalau ngeritik suka pedes banget sih kayak cabe rawit.

Gegera itu Partai Amanat Nasional (PAN) sampai bela-belain menggelar diskusi bertajuk ‘Reformasi 98: Melawan Lupa’. Cuma untuk membela kredibelitas Amien sampai segininya ya perlu bikin diskusi segala. Aya aya wae ah.

Jokowi yang sering dikritik Amien aja gak lebay-lebay amat bikin perlindungan dibalik sejumlah politisi. Ya biarkan itu terjadi secara alami tanpa perlu ada yang mem-backup. Kok sampe perlu bikin diskusi kayak gini sih? Amien takut ya kridibilitasnya merosot karena diragukan sebagai Bapak Reformasi?

Masa hobi ngeritik tapi gak siap dikritik balik sih. Sejauh ini udah ada lima orang aktivis ‘98 yang mempertanyakan kredibilitas Amien Rais sebagai Bapak reformasi loh. Sebut saja Wahab, yang merupakan Aktivis Famres; Eli Salomo Sinaga dari Forkot; Sri Bintang Pamungkas; Desmond J Mahesa; dan Faizal Assegaf.

Kalau menurut eike, Amien itu lebih mirip politisi yang memang hobinya menggunting dalam lipatan dan memerankan diri sebagai sosok yang benar. Jadi melakukan tudingan merupakan makanan sehari-hari gaya komunikasi seorang Amien Rais. Yang kek gini Bapak Reformasi? Hadeuh.

Emang sih, sejarah itu lebih sering ditulis oleh para pemenang. Dan karena Amien termasuk bagian dari politisi yang berperan dalam reformasi ’98, bukan berarti segala tindak tanduknya tanpa cela. Jangan-jangan figur Bapak Reformasi yang tersematkan pada Amien itu cuma karena keterlanjuran aja? Wew.

Apa karena didapuk sebagai Bapak reformasi, Amien jadi berhak mengkritik seenak udelnya tanpa data dan melihat fakta di lapangan? Ya gak lah! Itu namanya tudingan gak berdasar dan sama aja menebar hoax. Ketimbang Bapak Reformasi, kayaknya cocokkan disebut Bapak Nynyir deh. Jangan-jangan Amien memiliki karakter yang berbicara hanya untuk menipu dan diam untuk minta dilindungi? seperti yang dikatakan filsuf Voltire (1694-1778): “We must distinguish between speaking to deceive and being silent to be reserved.” (K16)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here