Al Jazeera Dihack, Qatar Dibungkam?

    5 minute read

    Belum reda panas yang terjadi di Timur Tengah, akibat pemutusan hubungan diplomatik tujuh negara dengan Qatar, kini jaringan satelit kantor berita milik Qatar, Al Jazeera, diretas. Mengapa?


    PinterPolitik.com

    Kantor media milik Qatar, bernama Al Jazeera mengaku jaringan website mereka mengalami peretasan pada Kamis (8/6) kemarin. Hanya saja, semua data dan entitas dari media yang berbasis di Doha tersebut, masih tetap beroperasi. Hal tersebut dinyatakan oleh Al Jazeera melalui akun twitternya.

    Dalam cuitan, Al Jazeera menyatakan, “seluruh sistem Al Jazeera media network berada dalam serangan siber, baik sistem, website, dan media sosial,” begitu yang tertulis dalam akun twitternya. Lebih lanjut, mereka menambahkan, “Ada upaya yang dilakukan untuk meretas sistem keamanan siber Al Jazeera, tapi kami berhasil menggagalkan upaya mereka, dan saat ini semua entitas kami tetap beroperasi,” sebut seorang karyawan Al Jazeera, yang enggan disebut namanya, seperti yang dilansir melalui Reuters.

    Guna mengantisipasi peretasan siber lainnya, stasiun televisi ini menutup situsnya untuk sementara. Hal ini dilakukan sebagai upaya penyelamatan dari peretasan. Kejadian ini merupakan upaya peretasan ketiga dalam 14 bulan terakhir yang dialami oleh Al Jazeera. Mereka mengakui jika website mereka sedang menghadapi upaya peretasan terus-menerus.

    Efek Domino Perceraian?

    Seperti yang dikatakan oleh Al Jazeera, pihaknya memang mengalami upaya peretasan beberapa kali. Setelah Qatar diceraikan oleh tujuh negara teluk tersebut, peretasan makin sering dan gencar terjadi.

    Menariknya, upaya peretasan ketiga yang dialami Al Jazeera, terjadi setelah Arab Saudi resmi mencabut izin operasi dan berujung pada penutupan kantor Al Jazeera pada Senin (5/6) lalu di Riyadh, Arab Saudi. Al Jazeera mengeluarkan pernyataan pada Selasa (6/6), walaupun ditutup oleh Arab Saudi, pihaknya akan terus meliput berita di kawasan tersebut, “meskipun jaringan ini dibatasi, Al Jazeera akan terus meliput berita dan urusan yang terjadi saat ini dari kawasan tersebut dan di luarnya dengan cara objektif,” ungkapnya.

    Baca juga :  Hillary dan Bill Clinton Akan Hadir Di Pelantikan Donald Trump

    Penutupan kantor berita di Arab Saudi memang menyusul keputusannya memutus hubungan diplomatik dengan negara terkaya di kawasan Timur tengah tersebut. Namun, hal tersebut tak bisa dibenarkan. Al Jazeera bahkan mengecam Arab Saudi dan meminta negara asal Raja Salman tersebut dapat mengizinkan jurnalis mereka tetap terus bekerja tanpa adanya intimidasi dan ancaman. “Kami sangat yakin bahwa ini langkah yang tidak bisa dibenarkan yang diambil otoritas di kerajaan tersebut untuk menentang jaringan ini dan operasinya,” ungkap Al Jazeera seperti yang dikutip dari Antara.

    Pihak yang menutup kantor berita Al Jazeera di Arab Saudi adalah Saudi Press Agency (SPA), mereka mengaku jika mendapat amanat dari Kementerian Informasi untuk menutup kantor Al Jazeera  dan mencabut izin operasi. Selain itu mereka juga menuding bahwa Al Jazeera mendukung kelompok teroris dan pemberontakan Yaman. Qatar dituduh menyiarkan ideologi mereka ke dunia Arab lewat saluran televisi Al Jazeera.

    Selain Arab, negara lain yang sudah lebih dulu memutus hubungan dengan Qatar dan memboikot kantor berita Al Jazeera adalah Mesir. Sama seperti Arab, Mesir menyatakan bahwa Al Jazeera mendukung Ikhwanul Muslimin, kelompok yang diduga mendalangi aksi kekerasan setelah militer Mesir menggulingkan pemimpin kelompok tersebut pada 2013 lalu. Maka dari itu, berbahaya bagi mereka, jika membiarkan Al Jazeera  terus mengudara.

    Tak hanya memboikot, Mesir juga memenjarakan beberapa jurnalis kantor berita tersebut. Salah satu jurnalis yang saat ini masih ditahan oleh Mesir adalah Mahmoud Hussein. Ia sudah ditahan sejak 20 Desember 2016 lalu.

    Al Jazeera Dihack Qatar Dibungkam
    Mohammad Hussein (Tengah) Foto: Istimewa

    Selain Arab dan Mesir, Bahrain sudah lebh dulu memboikot Al Jazeera. Pada tahun 2000, negara ini berkilah jika Al Jazeera terlalu sering dan terbuka menjabarkan persoalan domestik negara-negara tetangganya.

    Baca juga :  CEO Uber Mundur dari Dewan Penasehat Trump

    Sepak Terjang Al Jazeera

    Al Jazeera dalam Bahasa Arab berarti pulau atau jazirah. Ia merupakan stasiun televisi berbahasa Arab dan Inggris yang berpusat di Doha, Qatar. Stasiun televisi ini mereguk kepopuleran setelah tragedi serangan 11 September 2001. Al Jazeera menyiarkan rekaman pernyataan Osama bin Laden dan pimpinan Al Qaeda lainnya setelah serangan berlangsung.

    Al Jazeera berdiri pada April tahun 1996 dengan modal dari Raja Qatar, Hamad bin Khalifa Al Thani, sejumlah US$ 150 juta. Mereka mengklaim sebagai satu-satunya stasiun TV yang independen secara politik di Timur Tengah. Saat ini, jumlah penikmat berita Al Jazeera sudah mencapai 50 juta, lebih banyak dibandingkan dengan BBC dari Inggris.

    Raja Hamad (foto: Istimewa)

    Pada April di tahun yang sama, siaran BBC World dalam Bahasa Arab mengalami masalah dengan pemerintah Arab Saudi, dan akhirnya menutup operasinya. Akhirnya, banyak mantan jurnais dan staf BBC pindah ke Al Jazeera. Hingga pada 15 November 2006 saluran Al Jazeera berbahasa Inggris resmi mengudara pertama kali.

    Di samping reaksi yang melanda Al Jazeera, stasiun televisi ini adalah satu dari sedikit media yang konsisten mengungkap pemberitaan tanpa intervensi berlebih dari pihak pemerintahan atau politik manapun, namun mereka harus menelan dampak kebijakan politik yang diambil oleh beberapa negara lain.

    Peretasan yang terjadi pada Al Jazeera tentu mengandung banyak arti di belakangnya, dan hal tersebut tak terlepas dari efek domino pemutusan hubungan diplomatik yang dilakukan oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Yaman, Mesir, Libya, dan Maladewa. Bahkan tak berlebihan jika tuntutan pembredelan Al Jazeera, bisa menjadi salah satu cara Qatar memperbaiki hubungan regionalnya dengan negara-negara Timur Tengah lain, yakni dengan menjadikan Al Jazeera sebagai tumbal. (Berbagai Sumber/A27)

    Share On