Aktivis 98 Ajari Pemimpin  

Aktivis 98 Kritik Pemimpin
Foto : Istimewa
2 minute read

“Mana di mana anak kambing saya, anak kambing saya ada di pohon waru.” ~ Lagu Nasional


PinterPolitik.com

Terima kasih Aktivis 98, generasi jaman now memang sudah sepatutnya menanamkan kebangaan yang mendalam terhadap perjuangan militan yang telah kalian lakukan pada masa itu.

Berbeda zaman, berbeda perilaku. Seakan tak berdaya, generasi jaman now menjadi jauh dari yang diharapkan para aktivis karena generasi ini dianggap tidak dapat melakukan hal yang serupa dengan generasi militan itu.

Terima kasih karena telah membuka pintu demokrasi yang sebesar-besarnya untuk generasi jaman now, yang akhirnya generasi ini menjadi sulit diatur dan malas bicara politik.

Tidak perlu risau kami bodoh, kami akan tetap anggap demokrasi ini adalah warisan berharga, pemberian kakak yang terindahkan.

Kakak, hari ini sulit bagi kami membedakan nada. Mengapa semua bernada indah? Kami merasa berada di dalam orchestra yang dipenuhi kerumunan lebah. 

Kakak, tak banyak kata, hanya ucap terima kasih untuk kakak sebagai Aktivis 98. Kakak terima kasih telah ciptakan “raja-raja kecil” bernada mayor di berbagai daerah, dan terima kasih masih berniat untuk bertangung jawab atas itu.

Bagi kami kakak bagai pelita di siang yang terik. Hmmm.

Terima kasih kakak telah mengajarkan kami bagaimana caranya merusak dan bertangung jawab.

Saat berdebat tentang radikalisme, kakak malah bilang radikal yang dimaksud adalah berpikir, bertindak, sesuai dengan kebutuhan bersama demi tercapainya tujuan yang diinginkan.

Kami masih belum mengerti apa yang kakak maksud, maklum kami terlalu banyak makan micin. Kak, boleh kami bertanya?

Kakak bilang, komunikasi yang sulit kalian bangun membuat kalian semakin radikal? Jalan kaki adalah jalan satu-satunya untuk kalian jalin komunikasi antar kampus?

Baca juga :
22 Mei, Mega vs Titiek?

Untuk satu tujuan ya? Yang akhirnya sekarang terpecah dan mungkin ada yang menjilat ludahnya sendiri dengan kelompok-kelompok yang dilawan saat dulu? Maaf jika kami lancang kak.

Mengapa sekarang kakak terpecah? Apa kami kurang belajar sejarah? Maka ajari kami kak.

Kalian ingin mendorong generasi jaman now untuk berpikir kritis? Demi masa depan yang lebih baik? Kalian angap kami tidak berpikir? Maka mohon ajari kami berpikir.

“Jangan kau teriak maling, jika memang tidak pernah mau mengakui maling, jangan teriak bodoh kalo tidak mau mengaku bodoh. Bahwasanya kami tidak takut, tapi kami menunggu waktu yang tepat dan menunggu kalian berhenti medikte, kami akan bersatu menunggu generasi kalin berdiri di pucuk kekuasaan.”

Terima kasih atas doa dan masih mau mengkritik fenomena politik di bangsa yang kami banggakan ini. (G11)

 

Facebook Comments