Aksi Mahasiswa Riau, Waspada Jokowi?

Aksi Mahasiswa Riau, Waspada Jokowi?
Foto: Istimewa
7 minute read

“Setiap generasi pemuda di panggung sejarah gerakan politik di Indonesia merupakan anak dari jamannya.” – Benedict Anderson


Pinterpolitik.com

Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Riau (UIR) sempat membuat ramai publik. Mereka melakukan aksi demonstrasi di DPRD Riau. Aksi yang dihadiri oleh ribuan mahasiswa tersebut menghendaki presiden Joko Widodo (Jokowi) mundur dari jabatannya.

Mahasiswa yang mengenakan almamater berwarna biru itu, datang dengan atribut berupa kain putih bertuliskan “Turunkan Jokowi” yang ditulis dengan cat semprot warna merah.

Selain itu, mereka juga membawa boneka pocong dengan foto Jokowi. Mereka memaksa masuk ke halaman DPRD tanpa mampu dihalangi aparat kepolisian.

Adapun tuntutan mahasiswa tersebut secara umum adalah stabilisasi perekonomian negara, menyelamatkan demokrasi, serta pengusutan tuntas kasus korupsi PLTU Riau-1 yang menyeret pejabat teras atas negeri ini.

setidaknya demonstrasi Riau patut dilihat sebagai refleksi bersama bahwa masih ada bara yang tersimpan dalam kantung-kantung gerakan mahasiswa. Click To Tweet

Hengky Permana, selaku Presiden Mahasiswa UIR menjelaskan bahwa mereka tidak percaya dengan data-data perekonomian yang selama ini dikeluarkan oleh pemerintah. Sebab, ketika mereka terjun ke masyarakat, masih banyak kelompok seperti petani karet, sawit, dan kelapa – yang notabene adalah mata pencaharian masyarakat Riau – mengeluhkan kesulitan ekonomi.

Meski begitu, ada beberapa pihak yang menduga aksi demonstrasi tersebut ditunggangi untuk kepentingan politik tertentu, utamanya dari para politikus. Hal itu salah satunya disampaikan oleh politikus PDIP, Aria Bima yang menuding bahwa demo ini dilakukan oleh para aktivis ekstra kampus dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) sebagai onderbouw atau sayap Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Beberapa pihak menyebut tudingan ini minim bukti, dan pernyataan terlalu dini itu menegasikan gerakan yang sudah menjadi “ciri khas” mahasiswa jika tidak puas dengan kinerja masyarakat.

Sejak dulu, organisasi mahasiswa intrakampus memang memposisikan diri sebagai “pengontrol” kebijakan pemerintah. Prinsip gerakan independen ini sudah terbentuk sejak era awal terbentuknya organisasi mahasiswa pada 1950-an.

Fenomena demonstrasi di Riau ini menarik. Memang aksi demonstrasi bukanlah hal baru di republik ini. Tapi tensi politik yang cukup memanas menjelang Pilpres 2019, ditambah dengan kondisi perekonomian yang sedang memprihatinkan, memantik pertanyaan apakah aksi mahasiswa ini akan menjadi momentum bagi kampus-kampus lain untuk bergerak menekan Jokowi? Dan mungkinkah momentum ini menjadi pondasi bagi gerakan mahasiswa yang selama ini dinilai sedang “tertidur pulas”?

Aksi Riau, Memantik Daerah Lain?

Aksi ribuan mahasiswa dari UIR yang menuntut Presiden Jokowi lengser dinilai mampu membawa semangat baru bagi para mahasiswa untuk bersikap kritis terhadap rezim saat ini.

Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh jaringan aktivis Pro Demokrasi (ProDem), Satyo Purwanto yang menyebut bahwa hal serupa berpeluang besar terjadi kembali di daerah lain. Menurutnya, gerakan mahasiswa mampu menerobos sekat-sekat ideologi dan kepentingan pragmatis.

Kondisi saat demonstran memasuki ruangan DPRD Riau. (Foto: Tribun Pekanbaru)

Memang jika diperhatikan secara kuantitatif, gerakan di Riau bisa dibilang masif. Apalagi saat ini memang isu ekonomi menjadi keresahan bersama bagi segenap masyarakat di penjuru tanah air. Selain berkutat dengan teori, nyatanya mahasiswa juga turun ke masyarakat melalui strategi live-in untuk menciptakan kesadaran politik dan melihat konteks riil yang dialami masyarakat.

Kondisi ini kemungkinan akan memancing reaksi yang lebih besar di daerah lain. Ketua BEM Fakultas Teknik Universitas Bung Karno (UBK), Wirya Dhana menyebut bahwa aksi mahasiswa di Riau itu merupakan reaksi atas realitas ketimpangan sosial yang terjadi di masyarakat. Sementara Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) Obed Kresna mengatakan setiap orang berhak menyampaikan pendapat seperti yang dijamin dalam konstitusi. Kritik yang disampaikan mahasiswa UIR disebutnya bukan dosa besar.

Setidaknya di Riau sendiri, tiga dari empat kampus memiliki pandangan yang serupa.

Aksi ini juga seharusnya membuat mahasiswa saat ini belajar dari perjuangan gerakan mahasiswa pada masa sebelumnya. Mereka harus bersikap tegas dengan berbagai kajian dan tidak hanya riuh dengan selebrasi politik, katakanlah yang sering dilakukan di dunia maya.

Beberapa kampus lain di Jakarta juga sudah melakukan kajian-kajian serupa dan melihat momentum ini sebagai kesadaran bersama untuk mengambil tindakan nyata, yakni turun ke jalan. Jika pemerintahan Jokowi tidak mampu mengendalikan tuntutan yang disuarakan oleh mahasiswa, tidak menutup kemungkinan aksi serupa yang lebih besar akan menjalar ke daerah-daerah lain di Indonesia.

Mengurai Apatisme Mahasiswa

Semakin menjauh dari masa reformasi, semakin banyak pula kegundahan rakyat terhadap aktivisme gerakan mahasiswa. Mitos mahasiswa sebagai agent of change menjauh dari realita yang ada. Mereka cukup senang menjadi mahasiswa “kerbau” yang dicucuk oleh dosen, atau menjadi mahasiswa “kupu-kupu” – kuliah pulang – tanpa ada proses dialektis di lingkungan perkuliahan.

Para mahasiswa lebih senang dan bangga jadi tim hore di acara-acara TV atau duduk manis di pusat perbelanjaan atau di tempat nongkrong modern yang begitu gemerlap dan jauh dari kesulitan hidup rakyat kecil.

Di sisi yang lain, gerakan mahasiswa dalam organisasi kemahasiswaan cenderung tersandera dengan isu-isu elite yang menyetir media massa nasional. Mereka seringkali terjebak pada romantisme masa lalu, seperti seorang ABG yang ditinggal kekasihnya kemudian gagal move-on.

Problematika tersebut bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit (ahistoris), tetapi tak dapat dilepaskan pada akar sejarah. Banyak pengamat menganggap hal ini adalah buah dari neoliberalisme yang menyebabkan terjadinya komersialisasi pendidikan atau analisa budaya yang melihat karena pengaruh habitus baru, dalam konteks perubahan nilai-nilai sosial yang dihayati oleh manusia, dan tercipta melalui proses sosialisasi nilai-nilai yang berlangsung lama.

Namun, analisa tersebut mengandaikan mahasiswa sebagai makhluk tak bergerak yang dapat disetir ke sana ke mari. Padahal mahasiswa adalah manusia yang berpikir, berhasrat dan bergerak (hidup).

Tetapi, bukan berarti kondisi tersebut menjadikan mahasiswa terlelap lebih panjang. Sudah sepatutnya mahasiswa kembali pada trah sebagai garda terdepan yang membela kepentingan rakyat.

Kini fenomena gerakan pemuda atau mahasiswa mulai menjadi trend global. Publik pernah disuguhkan oleh peristiwa Arab’s Spring, Penguin Revolution hingga Umbrella Movement, yang kesemuanya dilakukan oleh kelompok pemuda atau mahasiswa.

Aksi Mahasiswa Riau, Waspada Jokowi?

Arif Novianto, dalam buku Indonesia Bergerak 2 menulis bahwa dikotomi gerakan mahasiswa terbagi menjadi dua, yakni gerakan yang progresif dan regresif. Gerakan politik progresif memang mengalami perkembangan pesat, namun mereka masih terpecah-pecah dan belum mencapai titik temu dalam melakukan konsolidasi gerakan. Ia menenggarai bahwa dinamika gerakan politik mahasiswa saat ini sudah regresif dan lebih mengutamakan gerakan moral.

Jika ditinjau secara historis, gerakan moral ini merupakan paham pemecah belah gerakan yang pondasinya mulai dibangun atas dasar kepentingan politik penguasa militer pro Soeharto untuk menciptakan konsensus-konsensus yang mendukung penghancuran basis kelas tertindas, yaitu kaum kiri dan soekarnois.

Gerakan moral ini bisa dilihat pada setelah Soeharto naik dalam tampuk kuasa ketika Ia berusaha mempreteli pengaruh Soekarno dan memberangus PKI. Semasa itu pemerintah, militer, dan gerakan mahasiswa yang terhimpun dalam Kesatuan Aksi Mahasisw Indonesia (KAMI) berperan penting.

Gerakan moral ini terbentuk salah satunya akibat dari tindakan represif regim orba, sehingga membuat gerakan mahasiswa dipaksa menjadi bersikap halus. Gerakan kontra revolusi ini juga bisa dilihat pada depolitisasi terhadap kehidupan rakyat. Ali Moertopo menggagas konsep floating mass (massa mengambang) pada tahun 1972 dengan tujuan penyederhanaan partai politik sehingga perhatian rakyat teralih dari isu politik ke usaha pembangunan.

Setelah itu dengan dukungan penguasa, gerakan moral dikonstruksi agar tidak memiliki kekuatan revolusioner salah satunya dengan melucuti sifat radikal gerakan. Itulah yang membuat gerakan moral ini tak memiliki potensi menciptakan tatanan yang emansipatif karena memisahkan diri dengan kekuatan massa dan menganggap diri mereka superior.

Dari sana juga kemudian apatisme mahasiswa ini muncul. Praktis setelah itu kampus cenderung hanya menjadi pabrik sarjana. Kampus sudah tidak lagi memiliki tanggung jawab sosial dan hanya mengejar komersialisasi pendidikan.

Mahasiswa seharusnya kembali merajut jalur perjuangan yang telah dirintis dan dilalui para pelaku sejarah perubahan, serta segera menyadari bahwa kehadiran mereka sangat ditunggu oleh masyarakat Indoenesia.

Jika kita lihat dalam fenomena demonstrasi Riau, memang hal tersebut mungkin masih jauh dari cita-cita gerakan itu sendiri. Tapi setidaknya hal itu patut dilihat sebagai refleksi bersama bahwa masih ada bara yang tersimpan dalam kantung-kantung gerakan mahasiswa. (A37)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here