Ahok Hidup Kembali di Bioskop

Poster film "A Man Called Ahok" dan sosok Ahok (Foto: Tribun News)
7 minute read

Film tentang Ahok mendapatkan perhatian dari banyak kalangan. Meski sudah disanggah bahwa film itu tidak mengandung unsur politis, namun tetap banyak yang bertanya-tanya terkait kemunculannya di tahun politik.


Pinterpolitik.com 

Film A Man Called Ahok sudah mengudara di bioskop mulai kemarin. Film ini menceritakan sebuah kisah drama keluarga yang meminjam Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai sentral tokoh cerita.

Film yang diadopsi dari buku karya Rudi Valinka ini tidak berbicara mengenai arus politik Ahok. Namun, di sini lebih menceritakan bagaimana sebuah karakter dapat terbentuk, apa yang membuat seorang Ahok menjadi sosok yang kita kenal seperti sekarang.

Namun, peluncuran film ini menimbulkan interpretasi dari banyak orang. Banyak yang menebak-nebak akan bergulir ke mana cerita film tersebut. Pasalnya di tengah musim kontestasi politik, film ini memunculkan beberapa persepsi dan opini yang mengarah pada Pemilu 2019.

Ahok Hidup Kembali di Bioskop. Click To Tweet

Terlebih, Ahok adalah mantan kolega politik dan berteman dekat dengan Joko Widodo (Jokowi). Ia bisa dibilang berada di barisan pendukung Jokowi.

Film ini juga seperti pertanda untuk menyambut kebebasan dari mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut yang kemungkinan akan bebas murni di awal tahun 2019.

Lantas, apa makna yang bisa ditangkap dari rilisnya film Ahok tersebut? Mengapa ia tampil ketika memasuki tahun politik, dan menjelang kebebasannya?

Usaha Menampilkan Citra Positif

Ahok memang bukan orang sembarangan di negeri ini. Di tengah sosoknya yang kontroversial, tepat apabila rekam hidupnya diangkat ke layar lebar. Film Ahok ini menambah daftar tokoh publik Indonesia yang kisahnya diangkat ke layar bioskop.

Film biopik sendiri biasanya mengangkat sosok yang inspiratif atau aksi sosok tersebut dalam mengubah sesuatu. Lewat film biopik, penonton bisa merasakan apa yang terjadi pada seorang tokoh di balik peristiwa-peristiwa besar yang mengelilinginya. Sebab biopik, seperti arti harfiahnya, ialah film yang menceritakan biografi tokoh.

Dilihat dari polanya, telah terjadi pergeseran dari pembuatan film-film biopik. Jika pada masa Orde Baru, film biopik identik dengan propaganda, namun selepas reformasi, nuansa film biopik bergeser ke arah yang lebih luas, film itu mulai bervariasi dengan mengangkat topik-topik percintaan, agama, kemanusiaan, politik, hingga pahlawan. Bisa juga perpaduan satu atau dua topik seperti film Sang Pencerah (2010), yang menceritakan sosok KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, guru agama, sekaligus pahlawan nasional.

Studi tentang film biopik setidaknya bisa dilihat pada karya George Frederick Custen dari College of Staten Island, New York. Custen membahas tentang kemunculan dan kematian film biopik dalam karyanya Bio/Pics: How Hollywood Constructed Public History. Custen berargumen bahwa meski biopik telah mati dengan kemunculan sistem studio Hollywood – pada masa 60an, film biopik telah dan terus akan memiliki peran penting sebagai alat penerjemah sejarah.

Sementara Dennis P. Bingham dari Indiana University – Purdue University Indianapolis, Amerika Serikat dalam Whose Lives Are They Anyway? The Biopic as Contemporary Film Genre. Bingham membahaas posisi film biopik dalam dunia perfilman secara umum.

Bagi Bingham, film biopik akan selalu penting. Bingham melihat ada perbedaan mendasar antara sebuah film dokumenter sejarah dan sebuah film biopik. Ia membela keadaan biopik yang memiliki dramatisasi dalam penyampaiaannya.

Biopik jelas mendramatisir kenyataan, dan oleh sebab itu pastilah tak akurat. Ia pastilah punya makna lebih luas dari suatu kenyataan. Film biopik, kapanpun dibuat, selalu punya maksud tertentu.

Sementara itu, di luar klaim Custen bahwa film biopik telah mati pada dekade 60-an, film biopik di Indonesia justru belakangan menggeliat.

Ahok Hidup Kembali di Bioskop

Apa yang menjadi analisa Custen dan Bingman, setidaknya muncul dalam film A Man Called Ahok. Film ini memiliki pesan yang sangat kuat untuk mendefinisikan Ahok sebagai figur di Tanah Air.

Film arahan sutradara Putrama Tuta ini, berbicara seputar hubungan Ahok bersama keluarganya yang tak banyak diketahui orang. Proses Ahok terlibat dalam dunia politik pun hanya diceritakan sekelebat.

Nampaknya Tuta sadar, jika dirinya menunjukkan sikap politik Ahok, maka hal itu akan menambah “gerah” masyarakat, dan tentunya tidak bisa dinikmati oleh banyak kalangan.

Melalui film tersebut, ada sisi yang sedang dieksplorasi yakni value of life yang dipelajari Ahok dari sosok Sang Ayah. Seperti yang diketahui, film ini didominasi oleh cerita relasi anak-bapak di mana Ahok yang diperankan Daniel Mananta dan Eric Febrian (Ahok muda) belajar nilai-nilai kehidupan dari Kim Nam (diperankan oleh Chew Kin Wah sebagai Kim Nam tua dan Denny Sumargo sebagai Kim Nam muda).

Drama hubungan antara Ahok dan ayahnya, Kim Nam menjadi fokus utama pada film. Kim Nam adalah pengusaha tambang di Belitung Timur yang dermawan sekaligus sosok ayah yang jujur dan teguh dalam pendirian.

Namun keteguhan Kim Nam terhadap prinsip hidup yang diyakininya sering tidak sejalan dengan keinginan Ahok sebagai anak. Seiring berjalannya waktu, Ahok tumbuh menjadi dewasa dan sedikit demi sedikit mulai memahami nilai-nilai yang ditanamkan sang ayah sejak kecil.

Oleh karenanya, film biopik Ahok ini mengajarkan sebuah nilai universal yang bisa dicapai oleh manusia. Dengan penggambaran tersebut, citra positif Ahok bisa disampaikan dengan baik ke masyarakat.

Rebut Simpati dan Terjun Kembali ke Politik?

Dalam tulisan 2008-2013 Political Biopics: Adapting Leaders for a Time of Crisis yang terbit di “Journal of the European Institute for Communication and Culture” Marta Frago menjelaskan bahwa pijakan utama biopik adalah sosok yang punya citra khas di mata publik.

Namun, cara membungkus citra karakter dalam film bervariasi dari waktu ke waktu dan menggunakan pola naratif yang berbeda di setiap zaman. Fargo juga mengatakan bahwa motif dari pembuatan film biopik beragam, mulai dari sebagai alat propaganda hingga merebut simpati.

Apa yang terjadi pada film Ahok setidaknya bisa dinilai untuk merebut simpati masyarakat. Dengan narasi nilai-nilai kehidupan yang didaptakan oleh Ahok semasa di Bangka Belitung menampilkan citra positif yang dalam kurun dua tahun ini terlelap akibat mendekam di penjara.

Film ini dirilis saat atmosfer kontestasi politik sedang panas di mana kubu oposisi pemerintah juga memiliki film yang mengangkat tentang peristiwa demo umat Islam atau yang dikenal dengan aksi 212, film tersebut rilis pada awal tahun.

Lalu saat ini juga ada film Hanum dan Rangga, yang dinilai memiliki nuansa serupa seperti film Ahok. Persepsi ini wajar ketika setiap hal yang berkaitan dengan Ahok selalu dikaitkan dengan fenomena politik.

Bisa jadi, adanya dua film dengan latar belakang politis yang cukup kuat ini bisa menjadi pertarungan narasi dua belah pihak dalam panggung sinema.

Sehingga pada akhirnya wajar jika muncul persepsi bahwasanya film ini ditujukan sebagai jembatan untuk memberikan nilai positif pada nama Ahok yang mana saat ini namanya jatuh di mata sebagian masyarakat akibat kasus penistaan agama yang menjeratnya.

Film memang memiliki peran untuk mengendalikan sentimen orang. Lewat functional magnetic resonance imaging (fMRI), para ilmuwan dari New York University mengetahui reaksi otak manusia terhadap adegan, warna, dan musik latar dalam film, dan hal itu menjadikan film-film yang mempunyai tujuan tertentu, misalnya film drama, mampu menancapkan pengaruh dan pesan di kepala para penontonnya. Penelitian lain dari Linfield College mengungkapkan bahwa tontonan di layar kaca berpengaruh terhadap tingkat sensitivitas atau kepekaan seseorang.

Citra Ahok sebagai politisi sudah terbangun dengan kuat. Ia lekat dengan sikap tegas, disiplin dan bersih, sebelum tersandung kasus penistaan agama. Dengan melihat pembentukan karakter Ahok semasa muda, penonton akan mendapatkan gambaran bagaimana sosok Ahok yang tegas, disiplin dan bersih terbentuk.

Film ini juga bisa dinilai sebagai pertanda bahwa Ahok akan kembali masuk gelanggang politik. Seperti yang sudah disinggung di awal, film ini diproduksi oleh The United Team of Art menjelang kebebasan Ahok pada awal 2019.

Film adalah medium yang baik untuk mengungkap citra seseorang. Oleh karenanya, bisa dipahami apabila film biopik-politik muncul di tahun politik. Sudah ada beberapa judul film biopik yang dirilis menjelang Pemilu atau tahun politik.

Di antaranya adalah film Jokowi (2013) tentang Joko Widodo, dan Dahlan (2014) tentang Dahlan Iskan. Kemudian, jelang pemilu 2014, Partai Gerindra mengunggah film dokumenter pendek di YouTube dengan judul Sang Patriot, mengisahkan perjalanan capres Prabowo Subianto.

Maka dari itu, patut ditunggu, mungkinkah dengan munculnya film Ahok di tahun politik seperti sekarang ini menjadi pertanda, bahwa sosok yang penuh kontroversi itu akan kembali ke panggung politik? (A37)