Adu Surat Cinta Jokowi-SBY

surat cinta
Jokowi dan SBY (Foto: Setkab)
3 minute read

“Ku terima suratmu, telah kubaca, dan aku mengerti,” ~Dewa 19, Kangen


Pinterpolitik.com

Siapa yang dulu masih merasakan kirim-kiriman surat cinta? Wah, dulu, kalau baru nerima surat dari orang yang dicinta, hati langsung berbunga-bunga. Belum dibuka aja, amplopnya udah dicium-cium. Apalagi kalau udah dibaca, beuh, berjuta rasa di dada.

Nah, ternyata bukan orang kasmaran aja yang suka kirim-kirim surat cinta. Belakangan, para politisi Tanah Air juga mulai senang dengan tradisi surat-menyurat ini. Wah, kalau politisi yang ngirim surat cinta, masih berbunga-bunga juga gak ya hati penerimanya?

Coba pertama kita tanya ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Panitia penyelenggara Pemilu ini, menerima surat cinta dari orang nomor satu di republik ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi). Waduh, siapa sih gak senang menerima surat dari Presiden?

Ternyata setelah dibuka dan dibaca, isi surat dari Presiden ini adalah untuk meminta KPU menaati putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), untuk memasukkan nama Ketua Umum Partai Hanura, Oesman Sapta Odang alias OSO, ke dalam daftar caleg DPD. Waduh, surat cinta kok isinya begini? Bukannya KPU itu independen ya? Kok bisa sih presiden meminta KPU untuk melakukan hal itu?


Presiden-presiden negeri ini kompak mengirim surat kepada pihak tertentu. Tapi, ada nuansa berbeda dari masing-masing surat... Click To Tweet

Selain KPU, ada juga pihak lain yang menerima surat cinta dari tokoh politik Indonesia. Pada kampanye akbar Prabowo Subianto beberapa waktu lalu, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengirim surat ke tiga petinggi partainya terkait dengan gelaran yang memutihkan Gelora Bung Karno tersebut.

Jantung dag dig dug tentu  wajar terjadi kalau dikirimi surat cinta oleh orang sekaliber SBY. Pas dibuka, ternyata Pak SBY mengimbau dari Singapura agar kampanye akbar Prabowo tidak bersifat ekslusif, tetapi harus inklusif. Pak SBY mengingatkan bahwa  kampanye Prabowo jangan sampai mengedepankan identitas kelompok tertentu saja.

Terus gimana ya kalau kita lihat kedua surat dari presiden-presiden kita ini? Apa dua-duanya sudah menggambarkan cinta kepada orang-orang yang menerima surat?

Susah sih, buat menebak hati masing-masing penerima. Kalau surat dari Jokowi ke KPU, kayaknya kental sekali aroma katebelecenya. Itu loh, surat pengantar dari pejabat untuk urusan tertentu. Kalau dalam bukunya Maribeth Erb, Carol Faucher, dan Priyambudi Sulistiyanto, disebutkan kalau katebelece ini sering jadi alat untuk memfasilitasi dan bahkan memotong proses formal.

Dalam konteks tersebut, ada yang menafsirkan kalau Pak Jokowi ingin memuluskan langkah OSO jadi caleg DPD. Apakah ini intervensi? Tidak ada yang tahu pasti, tapi KPU sendiri dengan terang dan jelas sudah bilang kalau mereka bukan anak buah presiden.

Lalu, bagaimana dengan surat cinta dari Pak SBY? Konon, surat cinta terbaik itu kalau kata sastrawan Fyodor Dostoevsky, datangnya langsung dari hati. Nah, di surat itu lumayan kelihatan kegelisahan hati Pak SBY kalau tidak perlulah politik identitas ini dimainkan berlebihan di Indonesia. Pak SBY menggambarkan kecintaannya kepada negeri ini, agar tak pecah karena identitas, makanya ia mengirim surat tersebut.

Pada akhirnya, tidak ada yang tahu pasti siapa yang paling berbunga-bunga saat menerima surat-surat cinta dari pemimpin-pemimpin bangsa tersebut. Kalau kalian sendiri lebih sreg dengan surat cinta Pak Jokowi atau Pak SBY? (H33)