Adu Kuat, Perempuan Hebat

9 minute read

Saat ini, keduanya diakui oleh media Barat sebagai dua perempuan terkuat. Tapi siapa lebih hebat?


PinterPolitik.com

Pertemuan ikonik Donald Trump dan Kim Jong Un yang berlangsung di Singapura pada Selasa (12/6) lalu, mampu menarik mata penjuru dunia. Selama ini, kedua negara yang kontras secara ideologi tersebut, memang kerap melempar ancaman geopolitik hingga hinaan berbau fisik.

Pertemuan yang sangat dinantikan ini, dinilai oleh beberapa media ternyata tidak menghasilkan perjanjian yang konkret dan signifikan, setidaknya itulah yang dinilai oleh Vox. Tetapi, pertemuan itu, berhasil membuat mata dunia kembali terpaku pada Kim Jo Yong, adik sekaligus penasihat utama Kim Jong Un.

Aksi Jo Yong yang banyak dibahas pada pertemuan kemarin, adalah cara cepatnya mengganti pulpen yang digunakan oleh sang abang untuk menandatangi dokumen. Alih-alih menggunakan pulpen yang sudah disiapkan, Jo Yong mengeluarkan pulpen dari jasnya dan memberikannya ke Kim Jong Un. Setelah penandatangan selesai, tim keamanan Korea Utara “menyingkirkan” pulpen dengan sarung tangan putih, seolah hal benda tersebut bisa meleleh kapan saja.

Walau dilihat sebagai tindakan yang ‘kurang sopan’, tetapi itulah yang harus dilakukan Kim Jo Yong selaku orang kepercayaan utama Kim Jong Un. Sebagai ahli propaganda dan informan handal, Jo Yong wajib melindungi Kim Jong Un dari berbagai macam kemungkinan musuh menyelusup mendapatkan data dari pemimpin Korea Utara tersebut.

Berbeda dengan persona Kim Jong Un, sosok Kim Jo Yong lebih banyak mendapat impresi positif di hadapan media Barat, terutama dari Amerika Serikat sendiri. Sejak kemunculannya pada Olimpiade Musim Dingin di Korea Selatan beberapa waktu lalu, media CNN bahkan menyebutnya sebagai perempuan pandai, calon pemimpin masa depan

Tak hanya itu, oleh Washington Post, Jo Yong dinilai sebagai sosok yang jauh dari kesan serius yang banyak diekspetasikan banyak orang. Senyum dan gesturnya yang santai bahkan terkesan akrab, membuat dirinya digambarkan sebagai enigma, sosok misterius yang menarik perhatian.

Jo Yong juga digambarkan sebagai perempuan dengan posisi tertinggi dalam pemerintahan dan juga terkuat di Korea Utara. Pernyataan yang dikeluarkan oleh NBC tersebut tak salah, tetapi posisi Jo Yong yang dianggap kuat memang terlihat dari jabatannya sebagai penasehat utama. Secara organisasi, dirinya ‘hanya’ menempati jabatan sebagai Wakil Direktur Propaganda dan Agitasi Partai Buruh. Jo Yong juga menjadi anggota parlemen kabinet politbiro termuda saat ini.

Walau begitu, bila kembali pada penggambaran ‘kuat’ yang diberikan oleh CNN Amerika Serikat, apakan kekuatannya itu juga tergambar dari bagaimana cara memimpin alih-alih jabatan yang diraihnya? Kira-kira apa faktor yang membuatnya digambarkan demikian?

Aneka Gaya dan Kepemimpinan

Penggambaran yang diberikan oleh CNN kepada Yo Jong sebagai perempuan terkuat, mengingatkan pula pada sosok Susi Pudjiastuti. Beberapa hari yang lalu, The New York Times juga menyematkan label yang sama pada sosoknya.

Bila dibandingkan, The New York Times meletakkan penggambaran sebagai perempuan kuat pada Susi atas sepak terjangnya di laut. Bagaimana dirinya berhadapan dengan para nelayan ilegal dan meledakkan kapal, tentu sudah menjadi pengetahuan publik.

Keberaniannya tersebut juga kerap bergesekan dengan kepentingan para politisi lain seperti Luhut Panjaitan yang pernah memintanya menghentikan aksi pengeboman kapal. Sebelas dua belas dengan pernyataan Luhut, Jusuf Kalla berkata, “cukup”. Taktiknya Susi bahkan dinilai oleh Kementerian Perdagangan membuat takut para investor asing.

Saat Susi berhadapan dengan pemerintahan Tiongkok, nada keberatan bahkan pernah keluar dari Presiden Jokowi. Tetapi Susi sendiri membalas, walau Tiongkok  merasa ‘terganggu’, tetapi mereka tetap tidak bisa marah kepadanya sebab dirinya bukanlah tentara atau duta besar, “Yang saya bicarakan cuma ikan saja,” ujarnya.

Susi Pudjiastuti (sumber: The New York Times)

Singgungan lain yang dihadapinya bersama Jokowi, adalah soal cantrang. Dari kisruh dan pergolakan yang hadir terkait cantrang, Susi akhirnya menuruti untuk menunda pelarangan penggunaan cantrang, bahkan pada Januari lalu, ia resmi membolehkan kembali.

Sementara itu, faktor penggambaran perempuan kuat yang diberikan oleh CNN Amerika Serikat kepada Jo Yong, terlihat dari posisi strukturalnya dalam pemerintahan. Selain membawa tanggung jawab di bidang propaganda, Jo Yong juga terlibat sebagai aktor dari kebijakan penjara ala kamp Nazi. Selain kedua hal tersebut, penggambaran ‘kuat’ juga lahir dari posisinya sebagai penasihat utama Kim Jong Un.

Dari perbedaan penilaian kekuatan tersebut, mengingatkan pada apa yang pernah disampaikan oleh Jean Lau Chin dalam Women and Leadership: Transforming Visions and Current Context, bahwa perempuan pun sama halnya seperti laki-laki, tertarik dengan kekuasaan dan kekuatan. Perbedaannya terletak dari akses, cara membangun (build), mempertahankan (maintain), dan mengekspresikan kekuatan tersebut.

Untuk mengawalinya, kepemimpinan perempuan juga merupakan bentuk kapital. Oleh Lin Nan dalam A Theory of Social Structure and Action, dijelaskan bahwa kapital dapat diklasifikasikan ke dalam dua tipe, yakni personal atau human capital dan modal sosial. Personal atau human capital terdiri dari sumber daya yang dimiliki oleh individu. Sementara modal sosial bersumber dari suatu jaringan atau asosiasi.

Dilihat dari penggambaran di atas, Jo Yong mudah dideteksi memiliki modal sosial yang kuat, sebab jaringan keluarga dinastik yang dimilikinya memudahkan dirinya aktif dalam politik dan menduduki posisi strategis pemerintahan. Sementara Susi, memiliki jaringan kuat dari kiprahnya sebagai pengusaha. Ia memiliki jaringan luas dengan nelayan dan masyarakat. Dan modal sosial yang dimiliki Susi berbeda sebab hal itu tak diturunkan dalam keluarga seperti halnya Jo Yong.

Lantas bagaimana jika ditilik secara personal atau human capital secara kepemimpinan?

Menilik Kepribadian dan Kepemimpinan

Tipe dan gaya kepemimpinan Susi, sejak awal memang dianggap sebagai faktor yang membuat dirinya dianggap kuat oleh The New York Times. Bila kembali membedah gaya kepemimpinannya dengan teori kepemimpinan situasional Henry Blanchard, yakni dengan telling (menyampaikan atau pekerjaan tinggi – relasi rendah), selling (menjual atau pekerjaan tinggi-relasi tinggi), participating (partisipasi atau pekerjaan rendah-relasi tinggi), dan delegating (delegasi atau pekerjaan rendah-relasi rendah), maka kinerja Susi lebih mudah terdeteksi.

Dimulai dari telling, Susi menyampaikan dengan tegas apa yang menjadi kebijakannya. Lalu selling, yang oleh Puri Kusuma Dwi, peneliti kebijakan Susi Pudjiastuti, disebutkan dengan mendapatkan kunjungan Komandan Korps Marinir, Buyung Lalana, untuk mendukung kegiatan Save Our Littoral Life (SOLL). Participating dilakukan Susi dengan memantau pengeboman kapal pencuri ikan. Lalu delegating dicapai dengan dinas kelautan dan perikanan yang membantunya, sehingga program-progamnya bisa didelegasikan.

Sementara pada Jo Yong, telling dilakukannya dengan menyampaikan maksud dan membuka suara bila Korea Utara bersenang hati melakukan perundingan berdamai dengan Korea Selatan. Selling atau yang kerap diartikan sebagai bentuk dukungan, belum terlihat jelas. Bahkan perempuan berusia 30 tahun ini ditarik dalam isu pelanggaran HAM oleh media Barat lain. Namun begitu, dirinya mendapat dukungan karena bersedia mengunjungi Korea Selatan.

Kim Jo Yong (sumber: DW)

Lalu participating yang dilakukannya adalah menjadi pelindung utama sekaligus informan kakaknya, Kim Jong Un. Sementara delegating, berhasil dilakukan sendiri olehnya dengan datang sebagai utusan ke Korea Selatan dalam rangka olimpiade musim dingin. Delegasi yang dilakukannya bahkan dianggap mampu mencapai tahapan signifikan yang pernah ada dalam beberapa dekade.

Yang Terkuat, Lalu Jatuh

Saat ini, di masa yang berdekatan pula, Susi dan Jo Yong memang menjadi perempuan yang mendapat perhatian media Barat dan dijuluki sebagai perempuan kuat, Tetapi bila mengingat beberapa waktu ke belakang, sosok seperti Aung San Suu Kyi, Park Geun Hye bahkan Megawati Soekarnoputeri pun sebetulnya pernah memangku ‘penggambaran’ serupa, yakni perempuan kuat.

Bila melihatnya saat ini, Aung San Suu Kyi dan Megawati memang masih layak serta masih bisa dikatakan sebagai perempuan kuat atau perempuan yang berkuasa. Tetapi narasi kekuatan yang ditampilkan antara sosok pemimpin dengan kebijakan dan pengaruh positif untuk negara dan rakyat, sulit untuk muncul kembali.

Media Barat di masanya, pernah menggambarkan Aung San Suu Kyi, Megawati, dan Park Geun Hye sebagai ‘leading woman’. Mereka dielu-elukan sebagai pembawa pembaharuan, karena tampil sebagai pemimpin perempuan pertama yang juga memiliki modal sosial berupa ikatan keluarga dengan politisi yang sudah kuat sebelumnya.

Melihat kejatuhan ini, tak menutup kemungkinan bila mereka tak bisa merawat (maintain) keseimbangan modal personal dan, terutama, modal sosialnya. Kejatuhan pamornya, diikuti pula oleh ketiadaan faktor kepemimpinan yang digariskan oleh Henry Blanchard.

Menariknya, seorang profesor politik dari University of Cambridge, Jiyoung Song menyimpulkan sendiri kriteria pemimpin perempuan kuatnya sendiri. Ia tentu saja tidak menyebut Kim Jo Yong dan Susi Pudjiastuti sebagai perempuan kuat versinya. Bagi dirinya, Tsai Ying Wen Presiden Taiwan saat ini dan Sylvia Lim dari Singapura, adalah perempuan dengan kepemimpinan yang kuat.

Tsai Ying Wen(sumber: The Diplomat)

Ia tak bersandar dari teori Henry Blanchard, namun melihatnya dari latar belakang kedua perempuan tersebut sebagai politisi self-made, atau dengan kata lain, politisi perempuan yang masuk ke dunia politik tanpa adanya modal sosial berupa jaringan keluarga atau relasi tertentu. Perlu diingat pula, perempuan yang berpolitik di Asia masih tak bisa dilepaskan dari adanya modal sosial jaringan elit keluarga, sehingga keterlibatannya dalam politik lebih didorong dengan motif personal (kematian/penistaan orang tercinta atau sistem dinastik), dibandingkan dengan nilai atau ketertarikan independen politik yang didapatnya dari pendidikan atau pengalaman organisasi.

Tsai Ing Wen dan Sylvia Lim adalah sedikit contoh perempuan yang bisa memasuki dunia politik tanpa adanya ‘sokongan’ modal sosial, dan murni adanya personal atau human capital. Selain itu, keduanya juga sudah makmur secara sosio-ekonomi karena sudah bekerja sebagai dosen sebelum memasuki dunia politik. Tak hanya itu, keduanya juga merupakan lulusan luar negeri.

Bila memakai ukuran yang digariskan oleh Jiyoung Song, maka nama Kim Jo Yong tersingkirkan dari Susi. Sebab, sebagaimana halnya Tsai Ing Wen dan Sylvia Lim, Susi memasuki dunia politik tanpa sokongan modal sosial berupa jaringan elit politik. Namun begitu secara pendidikan dirinya pun ‘kalah’, walau mendapat gelar doktor dari berbagai universitas, salah satunya Institut Teknik Surabaya (ITS), Susi nyatanya lulusan SMP dan belum pernah mereguk pendidikan di luar negeri.

Dengan demikian, pengertian perempuan ‘kuat’ pun ternyata bisa diukur dari berbagai sisi dan bisa saja dikeluarkan oleh pihak tertentu. Namun kesadaran untuk mengenal modal sosial dan modal personal sangat penting untuk melihat latar belakang dan relasi di belakang seorang politisi guna menelisik kemampuannya.

Sama halnya seperti politisi lelaki, Jo Yong dan Susi Pudjiastuti, bahkan Tsai Ing Wei serta Sylvia Lim, memang perempuan yang terlahir sebagai politisi dengan kekuatannya masing-masing. Mengutip apa yang dikatakan Margaret Atwood, perempuan kuat bukanlah sebuah anomali, namun pribadinya mumpuni. (A27)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here