Adu Kuat Amien-Pendiri PAN

lima pendiri PAN
Amien Rais. (Foto: Antara Foto via Beritasatu)
7 minute read

Lima pendiri PAN mengirim surat terbuka menggugat posisi Amien Rais di partai yang mereka bidani kelahirannya.


Pinterpolitik.com

Partai Amanat Nasional (PAN) seperti tak henti-hentinya dihujani masalah dalam beberapa waktu terakhir. Setelah sebelumnya menerima kenyataan petinggi-petinggi partainya memilih undur diri, kini posisi sang pendiri sekaligus Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais ikut digoyang.

Mantan Ketua MPR tersebut mendapatkan sepucuk surat yang cukup menghebohkan. Lima tokoh pendiri PAN, Abdillah Toha, Albert Hasibuan, Goenawan Mohamad, Toety Herati, dan Zumrotin meminta Amien Rais mundur dari PAN dan politik Indonesia secara umum.

Menurut kelima tokoh tersebut, Amien sudah melanggar prinsip-prinsip dasar dalam pendirian PAN. Mereka menyebut beberapa alasan mengapa mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu sudah dianggap tak lagi layak untuk berada di partai yang mereka dirikan.

Lima pendiri PAN itu menganggap Amien kerap membuat gaduh dengan pernyataanya. Selain itu, ia juga dituduh pro kekuatan Orde Baru. Amien juga dianggap menjadikan agama sebagai alat politik. Tuduhan lainnya adalah Amien tidak mencerdaskan bangsa dan ikut terbawa isu kebangkitan PKI. Terakhir, ia dinilai berat untuk melepaskan kepemimpinan di partainya.


Posisi Amien Rais di PAN memang seolah tidak tergantikan dari masa ke masa. Surat pendiri PAN ini boleh jadi adalah salah satu upaya untuk menggoyang posisi Amien yang lama tak goyah. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah kekuatan lima pendiri PAN ini cukup untuk meruntuhkan Amien dari posisi nyamannya?

Surat Lima Pendiri PAN

PAN memang hampir selalu identik dengan Amien Rais. Sejak muncul pasca reformasi, Amien memang menjadi tokoh sentral dari partai berlogo matahari ini. Meski demikian, Amien bukanlah satu-satunya figur  yang membidani lahirnya PAN. Ada banyak tokoh yang memiliki kredensial cukup mentereng, termasuk lima pendiri PAN yang kini menggugat posisi Amien.

Goenawan Mohamad (GM) boleh jadi adalah sosok yang paling populer dari kelima nama tersebut. Bagaimana tidak, GM dikenal sebagai sosok budayawan dan sastrawan di tanah air. Tidak hanya  itu, ia juga amat lekat dengan kelompok media Tempo yang hingga kini cukup disegani. Dalam banyak pembicaraan sosok GM kerap dikategorikan memiliki pemikiran liberal terutama karena kiprahnya bersama Manifesto Kebudayaan dan Komunitas Salihara.

Ada pula sosok Albert Hasibuan yang banyak malang melintang di dunia hukum dan HAM. Selain sempat menjadi advokat, ia juga pernah menjadi anggota Komnas HAM di mana ia terlibat dalam upaya pengungkapan sejarah kelam HAM di Indonesia.

Selain itu, ada pula nama Abdillah Toha, yang sempat menjadi Ketua DPP PAN saat partai itu berdiri. Ia pernah aktif di dunia aktivisme Islam seperti di HMI dan juga ICMI. Selain itu, ia juga terlibat dalam dunia usaha dan pernah menjadi CEO Jan Darmadi Corporation, perusahaan milik anggota Wantimpres Jan Darmadi.

Dunia aktivisme juga merupakan dunia yang tidak asing bagi sosok Zoemrotin. Seperti Albert, Zoemrotin sempat menjadi salah satu anggota Komnas HAM. Tidak hanya itu, ia juga aktif memperjuangkan isu hak-hak konsumen melalui Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia.

Terakhir, ada sosok Toeti Heraty yang merupakan salah satu sosok penulis yang disegani. Dalam kadar tertentu, Toeti juga kerap dianggap sebagai sosok feminis dan kerap menuliskan pemikiran penting tentang perempuan.

Jika ditarik kesamaan, kelima sosok pendiri PAN boleh jadi memiliki kesamaan latar belakang. Mereka dapat dikategorikan sebagai figur yang memiliki haluan pemikiran yang cenderung progresif dan mendukung isu-isu penting seperti demokrasi, HAM, hingga feminisme. Di luar itu, Luthfi Assyaukanie memberikan label sekuler kepada beberapa sosok yang memilih nonaktif dari PAN tersebut.

Tak hanya itu, kesamaan juga dapat dilihat dari sikap politik beberapa pendiri tersebut. Goenawan Mohamad dan Abdillah Toha merupakan dua sosok yang secara terbuka menunjukkan dukungan mereka kepada Joko Widodo (Jokowi). Melalui dua hal tersebut, tergolong wajar jika kemudian lima pendiri PAN ini berseberangan dengan Amien dan memintanya untuk berhenti berpolitik.

Dunia Amien Rais

Jika diperhatikan, Amien memang memiliki persinggungan dengan dunia yang berbeda dengan kebanyakan tokoh di atas. Meski dianggap sebagai sosok yang reformis dan pro-demokrasi, nyatanya latar belakang Islam Amien tergolong lebih kuat ketimbang lima tokoh yang kini menantangnya.

Dalam sebuah dokumen, sebagaimana dikutip oleh Unheeded Warnings yang disunting oleh Richard J. Leitner dan Peter M. Leitner, digambarkan bahwa Amien adalah sosok yang memiliki jejaring politik yang cukup luas, terutama di kalangan Islamis. Ia misalnya adalah orang yang ikut membidani kelahiran ICMI, salah satu organisasi Islam yang sempat berpengaruh.

Jejaring tersebut digambarkan tidak hanya berlaku di Indonesia. Menurut dokumen yang sama, Amien disebut dekat dengan Ikhwanul Muslimin dan Al Azhar di Mesir. Tidak hanya  itu, ia juga digambarkan mendukung perjuangan kelompok Muslim di dunia seperti di Moro dan Palestina.

Selama perjalanannya, Amien tergolong konsisten dengan gagasan Islamis tersebut. Meski sempat berkoalisi dengan tokoh lain seperti Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri, Amien sebenarnya dianggap masih memendam cita-cita untuk membawa gagasan Islam di Indonesia.

Pengalamannya berkuliah di University of Chicago membuat ia menempuh jalan berbeda untuk mewujudkan gagasan Islam tersebut. Ia misalnya mendukung demokrasi dan mendorong masyarakat untuk belajar pengetahuan modern.

Secara khusus, pengalaman di Chicago itu juga membuat ia memiliki pandangan berbeda dalam memandang kelompok minoritas. Ia mengambil pengalaman kelompok Yahudi di AS yang memiliki kekuatan ekonomi-politik yang sangat kuat dibandingkan kelompok mayoritas. Amien tidak ingin hal itu terjadi di Indonesia terutama dalam konteks ini pada muslim sebagai mayoritas.

Pada titik ini, terlihat bahwa Amien memang tergolong ke dalam pemimpin dengan pemikiran Islam yang kuat. Jika merujuk pada alasan-alasan yang disebutkan lima pendiri PAN untuk menggoyang Amien, mantan Ketua PP Muhammadiyah ini sebenarnya punya sejarah panjang pemikiran dari sikapnya selama ini. Oleh karena itu, sikap Amien yang digugat seperti perkara agama merupakan hal yang telah lama ada di alam pikirannya.

Adu Kuat

Berdasarkan kedua posisi tersebut, terlihat bahwa lima pendiri PAN dan Amien Rais boleh jadi sebenarnya berada dalam dua kutub pemikiran yang berbeda. GM dan kawan-kawan tergolong dekat ke paham yang lebih liberal-reformis atau setidaknya sekuler. Sementara itu, Amien memiliki kedekatan dengan pemikirian Islam. Hal ini membuat pilihan kedua kubu ini memang sulit bertemu.

Perbedaan pandangan inilah yang disebut-sebut membuat sejumlah pendiri PAN mengambil jarak dengan partai yang ia dirikan. Assyaukanie misalnya menggambarkan bahwa mulanya PAN adalah partai yang inklusif. Akan tetapi, pada perjalanannya, sejumlah figur religius masuk ke dalam jajaran elite PAN sehingga membuat pemimpin berhaluan sekuler dan non-Muslim memilih mundur.

Tidak hanya  berbeda dari akar pemikiran, kini, kedua kubu ini juga tampak berbeda dari pilihan politik. Kelima pendiri PAN dianggap sebagai sosok yang influencer yang mendukung kandidat petahana Jokowi. Sementara itu, Amien bersama PAN kini terang-terangan mendukung Prabowo Subianto.

Merujuk pada kondisi tersebut, surat dari kelima pendiri PAN bisa saja diartikan publik tidak hanya bersumber dari perbedaan pemikiran, tetapi juga perbedaan pilihan politik. Apalagi, selama ini, pihak Jokowi sebagai pemerintah berkuasa kerap dibuat repot dan terus berusaha menjinakkan Amien. Bisa saja ada yang mengartikan bahwa lima pendiri PAN ini ingin membelokkan dukungan PAN dari Prabowo ke Jokowi.

Lalu, di antara kedua kubu ini, manakah yang lebih kuat? Sulit untuk menilainya saat ini. Akan tetapi, jika ditelusuri lebih jauh, pengaruh Amien tergolong sangat kuat mengakar di masyarakat Indonesia dan tentu saja di internal PAN. Jika pengaruh ini yang menjadi faktor kunci, Amien boleh jadi selangkah di depan ketimbang kelima pendiri PAN tersebut.

Bagaimanapun, Amien Rais tetap dianggap sebagai sosok patron politik utama di Indonesia dan khususnya  di PAN. Dalam kadar tertentu, PAN sudah berada dalam titik personalized party yang seperti tak bisa lepas dari bayang-bayang Amien. Kategorisasi partai terpersonalisasi ini diungkapkan misalnya oleh Richard Gunther dan Larry Diamond.

Amien Rais dan lima pendiri PAN yang mengirim surat terbuka padanya memang memiliki perbedaan sejak lama. Click To Tweet

Partai seperti itu cenderung bertumpu pada patronase kepada sosok pendirinya dan nyaris semua kebijakannya bertumpu pada sosok tersebut. Dalam konteks PAN, patron yang dimaksud adalah Amien Rais sehingga semua kebijakan tergantung kepadanya.

Oleh karena itu, jika PAN mengambil sikap yang cenderung bertentangan dengan prinsip pendiriannya, hal tersebut tergolong wajar. Amien lebih kental dengan pemikiran Islamnya ketimbang pemikiran reformisnya. Maka, alasan-alasan yang disebut oleh lima pendiri PAN boleh jadi akan buntu dihadapkan dengan pemikiran Amien sebagai patron utama.

Pada titik ini, Amien boleh jadi akan tetap menjadi tumpuan di internal PAN. Meski demikian, jelas PAN tetap harus menyiapkan diri untuk hidup tanpa Amien, jika ingin tetap eksis di jagad politik Indonesia. (H33)

[related_posts_by_tax posts_per_page="7" taxonomies="category,post_tag" order="ASC"]