Abu Janda Bos Saracen?

abu janda saracen
Permadi Arya alias Abu Janda Al Boliwudi. (Foto: Swararakyat.com)
2 minute read

“Hanya kebenaran bisa menghadapi ketidakadilan. Kebenaran atau cinta.” ~Albert Camus


PinterPolitik.com

Kasus Saracen lagi-lagi menguak kepermukaan, setelah sebelumnya sempat bikin heboh manusia se-Indonesia. Kala itu, kemunculan Saracen menciptakan kengerian yang bukan main dahsyatnya – setidaknya buatku pribadi – karena apa? Karena negeri ini ternyata telah kebanjiran hoaks yang ditebar oleh akun-akun bodong terorganisir.

Ya, dulu Saracen muncul sebagai sindikat yang terbukti telah menyebarkan hoaks untuk menyerang Presiden Joko Widodo. Namun, kasusnya hingga kini masih belum jelas juntrungannya. Buntu. Polisi belum berhasil menemukan tersangka hingga bos yang terkait langsung dalam pengoperasian Saracen.

Waktu itu pernah sih ada penangkapan, namun orang-orang yang ditangkap divonis dengan hukuman yang tidak terkait dengan penyebaran hoaks. Jasriadi, orang yang sebelumnya diduga bos Saracen, malah dijerat Pasal akses illegal karena mengakses informasi orang lain.

Hmmm… Berita-berita hoaks tentu menjadi suatu hal yang sangat membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa kita, yang suka kadang-kadang toleran, kadang-kadang rasis, yang kadang-kadang sayang, kadang-kadang saling benci. Begitulah…

Nah, setelah sekian lama kasusnya mengambang, terombang-ombing tiada kejelasan, tiba-tiba Facebook mengumumkan beberapa akun dan halaman Facebook yang diblokir karena terindikasi masuk kedalam jaringan Saracen. Masyarakatpun kembali bernostalgia.

Namun yang menghebohkan, akun Permadi Arya alias Abu Janda masuk ke dalam daftar nama yang diblokir Facebook. Hal ini membuat rakyat jadi bertanya-tanya, 00 Sementara itu, Saracen justru terkenal sebagai sindikat yang menyerang Jokowi. Jadi sebenarnya siapa yang menyerang siapa?

Meski Abu Janda tak terima akunnya dibinasakan dan menuntut Facebook ganti rugi sebesar Rp 1 triliun, namun pihak Facebook tetap bersikeras bahwa yang dilakukan pihaknya sudah sesuai prosedur.

Head of Cybersecurity Policy Facebook Nathaniel Gleicher mengatakan, halaman, grup, dan akun dihapus berdasarkan tindakan dan aktivitas di Facebook, bukan semata-mata karena konten yang diunggah. Dan ternyata, Facebook melihat orang-orang di balik akun-akun tersebut melakukan aktivitas yang saling terkait satu sama lain dan menggunakan akun palsu untuk memanipulasi pengguna sosial media lainnya.

Baca juga :
 Jokowi dan Kunci di Papua

Dengar-dengar, gara-gara pengumuman Facebook, penegak hukum kini mulai gencar kembali untuk menindaklanjuti kasus Saracen. Ya, masyarakat hanya bisa menunggu, seberapa hebat penegak hukum kita mencari kebenaran. (F41)

Facebook Comments