2019, Perang Politik Ulama?

2019, Perang Politik Ulama
Foto : Detik.com
6 minute read

Modal sosial ulama sangat mungkin untuk dikonversikan menjadi modal politik menjelang Pilpres 2019


PinterPolitik.com

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA kali ini melakukan survei politik cukup unik yang bertajuk ulama dan efek elektoralnya.

Hasinya, terdapat 5 ulama paling berpengaruh di kehidupan masyarakat Indonesia yaitu Abdul Somad, Arifin Ilham, Yusuf Mansur, Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), dan Rizieq Shihab.
Perangkingan ulama tersebut menempatkan 82,5 persen responden suka dengan Somad dari 59,3 persen responden yang pernah mendengar sosoknya. Sementara itu sebesar 30,2 persen responden menyatakan mendengar imbauan Somad.

Urutan kedua menempatkan Ustaz Arifin Ilham dengan popularitas sebesar 41,2 persen. Dari 41,2 persen tersebut, sebesar 84,4 persen menyatakan suka dengan Arifin Ilham dan mereka yang menyatakan mendengar imbauan Arifin Ilham sebesar 25,9 persen.

Di Urutan ketiga popularitas Ustaz Yusuf Mansur mencapai 57,2 persen pemilih dan sebesar 84,9 persen menyatakan menyukai Yusuf Mansur. Sementara itu, 24,9 persen menyatakan mendengar imbauannya.

Urutan keempat ditempati Aa Gym. Dia dikenal oleh 69,3 persen pemilih. Dari mereka yang mengenal, sebesar 79,7 persen menyatakan suka dengan sosok Aa Gym. Dan mereka yang menyatakan mendengar imbauan Aa Gym sebesar 23,5 persen.

Di urutan kelima terdapat nama Habib Rizieq Shihab. Sebanyak 53,4 persen pemilih mengenal sosoknya. Sebanyak 52,9 persen pemilih menyatakan suka dengan sosok Habib Rizieq dan 17,0 persen menyatakan mendengar imbauan Rizieq.

Lalu apa sebenarnya yang menyebabkan efek elektoral ulama ini cukup berpengaruh? Bagaimana bargaining politik ulama ini mengkapitalisasi suara menjelang Pilpres 2019?

2019, Perang Politik Ulama

Modal Sosial Ulama

Ada yang menarik dari hasil survei LSI Denny JA utamanya menyoal pengaruh elektoral ulama dalam mempengaruhi suara para jamaahnya di tingkat akar rumput.

Lalu mengapa sosok ulama ini sebegitu berpengaruhnya dalam aspek sosial, bahkan dalam aspek politik dewasa ini?

Tidak lain jawabanya ada pada modal sosial yang mereka dapatkan dari interaksi mereka dalam masyarakat.

Hal ini sejalan dengan klasifikasi Pierre Bourdieu yang mendefinisikan modal sosial sebagai akumulasi sumber daya aktual dan potensial yang terkait dengan kepemilikan jaringan abadi dalam bentuk hubungan yang dilembagakan untuk menciptakan hubungan saling menghormati satu sama lain.

Konsep modal sosial mencakup sumber daya yang berasal dari seseorang yang tergabung dalam suatu kelompok. Lebih lanjut, hubungan modal sosial yang terbentuk terjadi atas dasar hubungan pertukaran material dan / atau simbolis.

Dalam konteks simbolis, modal sosial ini seringkali diekspresikan melalui nama besar atau jabatan dimana merujuk pada sebuah keluarga, klan, status sosial dan hal-hal yang berkaitan dengan gelar dan pangkat.

Selaras dengan penjelasan Bourdieu, titel ulama inilah yang kemudian membentuk modal sosial itu dimana ulama atau kiai, dengan legitimasinyasebagai simbol pemuka agama, mampu menciptakan hubungan secara luas dan mendalam dengan masyarakat.

Modal sosial ini penting dalam politik karena dalam kadar tertentu, modal sosial bisa dikonversi menjadi modal politik.

Argumentasi tersebut dipertegas dengan pendapat Regina Birner dan Heidi Wittmer dalam tulisan yang berjudul Converting Social Capital into Political Capital, bahwa modal sosial sangat mungkin untuk dikonversikan menjadi modal politik.

Selanjutnya, modal politik sendiri terdiri atas sumber daya yang dimiliki oleh aktor, yaitu individu atau kelompok, yang dapat digunakan untuk kepentingan politik aktor tersebut. Jika seseorang memiliki modal sosial yang buruk, maka juga akan menyebabkan  modal politik yang buruk. Begitu pula sebaliknya.

Birner dan Wittmer mencontohkan aktor seperti LSM dan aktivis yang memiliki modal sosial tinggi dalam bentuk organisasi dan jaringan, dapat mengubahnya menjadi modal politik instrumental yang dapat dimanfaatkan dalam pemilu.

Berdasarkan penjelasan di atas, dalam konteks Indonesia, menjelang Pilpres 2019, seberapa kuat sebenarnya modal sosial ulama untuk meraih suara? Mungkinkah modal sosial dan modal politik para ulama ini menjadi kunci penentu kemenangan salah satu kubu?

Menebak Peta Dukungan Ulama

Dalam konteks politik Indonesia, ulama memang memegang kunci penting dalam setiap momen politik. Terlebih modal sosial mereka teramat kuat yang memungkinkan mereka untuk melakukan seruan politik.

Pasca reformasi, peran ulama dalam politik adalah sebagai penegasan bahwa antara agama dan politik tidak perlu dipisahkan.

Karena Islam menjadi agama dominan di Indonesia,  disebut oleh pengamat politik LIPI, Hamdan Basyar, keterlibatan ulama dalam politik adalah suatu keharusan. Melalui partai politik dan ikut kampanye, ulama pada akhirnya dapat berperan aktif untuk meraih kekuasaan politik formal.

Selain itu, bukan rahasia jika secara secara sosiologi politik, kriteria masyarakat Indonesia cenderung menempatkan ulama sebagai patron dalam kehidupan sosial mereka.

Realitas tersebut pernah diungkap oleh Clifford Geertz dalam penelitianya yang bertajuk The Javanese Kijaji : The Changing Roles of A Cultural Broke. Lebih lanjut Geertz menjelaskan bahwa yang membuat seorang kiai menjadi karismatik adalah karena perannya sebagai perantara budaya atau cultural broker.

Sehingga, karena perannya itu, seorang ulama atau kiai dapat berfungsi sebagai pemersatu dalam masyarakat lingkungannya. Pun juga mempersatukan pilihan politik.

Dampaknya, pertarungan untuk mendapatkan dukungan ulama masih menjadi pertarungan yang sengit menjelang Pilpres 2019. Para politisi tentu tak mau menyia-nyiakan potensi modal sosial sang ulama yang berpotensi besar menjadi modal politik.

Jika merujuk pada hasil survei LSI, nampaknya kekuatan ulama memang masih cukup besar di abad 21 ini. Terdapat 51,7 persen responden yang memilih lebih dengar imbauan tokoh agama yakni ulama, pastor, biksu, dan lain-lain. Sementara hanya sebesar 11 persen responden yang lebih mendengar imbauan politisi.

Jika dilihat dari dukungan ulama ini sebelum hasil survei dirilis, sosok Abdul Somad dan Habib Rizieq Shihab secara politik memang mendukung sosok calon presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto.

Terdapat pula sosok Aa Gym, yang pada Pilpres 2014 menyatakan dukungan untuk Prabowo-Hatta.

Namun, menjelang pemilu 2019, nampaknya dukungan para ulama ini telah mengalami re-konfigurasi mengingat dinamika politik yang terus berubah dalam 5 tahun terakhir ini. Jika di petakan, sebagian ulama ini memang bisa dibilang bersikap pragmatis atas kondisi politik yang ada.

Ketidakjelasan soal posisi politik Yusuf Mansur misalnya, mengindikasikan bahwa ustadz  memiliki pertimbangan politik tersendiri. Yusuf Mansur juga pernah terlihat berkunjung ke kediaman Ma’ruf Amin dengan tujuan untuk membahas tim sukses beberapa waktu lalu.

Para politisi tentu tak mau menyia-nyiakan potensi modal sosial sang ulama yang berpotensi besar menjadi modal politik Click To Tweet

Namun di lain kesempatan, Yusuf Mansur juga bertemu dengan kubu yang berlawanan dengan Jokowi-Ma’ruf. Dia bahkan salat Jumat bersama dengan cawapres nomer urut 2, Sandiaga Uno beberapa waktu lalu. Usai pertemuan itu, bahkan Yusuf Mansur menyebut bahwa dirinya selama ini seolah menjadi adik bagi Sandiaga yang menyiratkan hubungan keduanya terasa dekat.

Sementara itu, Aa Gym memilih untuk menghindari pernyataan dukungan kepada salah satu paslon menjelang Pilpres 2019, meskipun di Pilpres 2014 ia mendukung kubu Prabowo.

Hal serupa berlaku pada Ustaz Abdul Somad atau yang akrab disapa UAS, belum terbuka terkait dukungan politiknya terhadap salah satu kandidat Pilpres 2019, meskipun UAS selama ini cenderung dekat dengan kubu Prabowo-Sandi.

Sementara itu, sosok Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab tampaknya sudah jelas bahwa ia menetapkan pilihan kepada pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Hal ini terungkap melalui rekaman suaranya  yang diputar pada deklarasi relawan Komando Ulama Pemenangan Prabowo-Sandi (Koppasandi).

Jika merujuk pada survei LSI, suara Prabowo-Sandi disebut unggul di pemilih yang mendengar imbauan UAS dan HRS. Namun, menariknya suara Jokowi-Ma’ruf unggul di pemilih yang mendengarkan imbauan Ustaz Arifin Ilham, Yusuf Mansur, dan Aa Gym.

Jika melihat realitas di atas, menarik untuk melihat bagaimana konversi modal sosial menjadi modal politik terjadi di Pilpres 2019 nanti. Mau dibawa kemana modal politik mereka di gelaran tersebut? Kita lihat saja nanti. (M39)